Sabtu, 11 Desember 2010

tuhan sempat datang

Aku dan siang hari bejalan bersama disebuah kota. Kami melihat kerumunan orang dipelataran gedung. Aku bertanya pada siang, tapi siang malah terbang tanpa pesan. Kini aku sendiri menghampiri keramaian. Seekor monyet terus menari dengan payung dan senapan kayu, berharap ada yang peduli pada tuannya yang tak peduli lagi.

Kulihat sesosok tubuh berbaring diam ditengah suarasuara. Tubuh cantik dan beku, seperti teratai putih dikolam vihara. Seorang biksu rupanya ceroboh menorehkan kuas bertinta merah disudut bibirnya, sebelum botol tinta terjatuh, hingga merah meggenangi kepala dan rambut. Sebuah suara berseru dari tempat jauh, meminta semua menepi.

Aku sendirian, seperti adam dengan jumlah rusuk masih utuh. Kulihat sebuah kemera menjulurkan lidahnya, amat panjang. Sebuah mobil melolong macam anjing atau gema suara malam diguagua walet. Tubuh itu masih terbujur, terlanjur menjadi sebuah jalur dimana dusta akan menemukan katakata. Tubuh itu kian mekar, benarbenar seperti bunga, tak butuh nalar.

Ada yang sibuk mengulurkan pita kuning dipagarpagar dan tiang, juga patungpatung dijalan masuk gedung. Sepatu saling bertukar cerita, tentang warnawarna debu pada karpet dilantai kamar, dimana cinta pernah membakar surga. Lalu orangorang tibatiba bertanya, adakah yang lihat tuhan? Tapi, kenapa mencari tuhan siangsiang? Lupakah; ini bukan hari sabat, bukan pula hari jumat ? Seorang satpam bicara ditelevisi, dia berkata ; sempat melihat tuhan masuk ke dalam flat perempuan itu, sebelum tubuhnya ditemukan terbujur di pelataran. Dan aku melihat dibibirnya tumbuh bunga mawar…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar