Sabtu, 11 Desember 2010

pasar yang lapar

Aku pergi ke pasar, ingin membeli beras, sayur dan sedikit lauk untuk anakanakku. Ternyata semua sudah habis dibeli oleh ayahibuku. Mereka mungkin tersesat, tak ada jejak. Aku ingat tentang sebuah pohon yang tumbuh dihalaman rumahku, buahnya bisa bicara, berhitung dan mengajariku menggambar gununggunung dengan matahari yang terbit dicelahnya.

Sekarang pasar itu seperti mendatangi rumahku, saat anakanakku belum pulang dari sekolah. Para pedagang berteriakteriak menawarkan rasa lapar, hanya rasa lapar yang tersisa, belum habis terjual. Sesungguhnya, aku hanya ingin kau segera datang, bawakan aku mainan bongkarpasang yang selalu belum sempat kususun lengkap. Kudengar bel berdering nyaring, waktunya berdoa lalu mengucap salam, selamat siang pak guru, selamat siang bu guru. Kudengar tawa temantemanku menemaniku berjalan pulang. Melewati ladang jagung, sawah, kebun tomat dan kentang. Seperti pasar malam, kereta api kelinci, dan kudakudaan yang diputar dengan tangan.

Ibu menunggu dihalaman rumah, sedang menjahit tirai dari batangbatang jerami. Aku lapar ibu. Lalu pohon itu menjatuhkan sebutir buah untuk kumakan. Kemudian aku mendengar suara pidato dari radio, bukubuku bercerita untukku, dan kau datang membawa kalkulator. Tapi aku masih menunggu anakanakku pulang sekolah membawa gambar gunung, agar bisa kutaruh matahari titipan ayahku dicelah gunung. Sebelum terlalu panas tubuhku, sebelum demam meledakkan kepalaku, menghamburkan semua kenangan, juga angan dijalanjalan pasar...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar