Begini, kataku. Begitu, katamu.
Memangnya kau siapa, mereka menggugatku, menyeretmu duduk di bangkubangku yang berlubang giginya. Terlalu banyak mengunyah manis kata. Lalu akankah semua airmata itu tersimpan di buram jendela. Mengasamkan mulutmulut rayap di kaki meja. Seseorang bijak menganggukkan kepala, dan palu gelisah menanti sebuah ketukan, ketukan yang akan membuat lunglai kursi. Marilah kita kenakan jubah hitam, bersiap mengantar jenasah. Setelah palu itu terkabul harapnya, sudah pasti ada lagi yang mati. Kita lihat saja, tuan yang mana itu, hantu tanpa kepala itu juga gelisah, seperti palu. Sungguh malang mereka semua, katakan begini saja : bangkai kata itu sudah terangkat ke surga, duduk di sebelah kanan allah bapa, pada hari ketiga dia akan bangkit, mengadili yang hidup dan mati. Kerajaannya takkan berakhir.
Begitu, katamu*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar