Kamis, 23 Desember 2010
afair
Aku memeluk laut kering di lenganmu, mengumpul butirbutir garam. Jantungku mengosongkan ruang, mengasinkan darah, memutih jadi guci, kilaunya setajam belati. Dia tak resah menyesah dahaga, demi yang berpesta pora sepanjang malam. Bersama daftar menu, botol cuka, mayonaise dan tabung merica, kukisahkan detak malam yang lesu : sebuah teluk yang tersembunyi dari peta harta karun. Dengan tabah kau anyam duriduriku jadi mahkota, lalu kaukenakan di kepalamu sendiri. Garam memerah. Ya, sungguh tak wajar. Kuakui saja, aku mencandui rindu, seperti sepotong daging harum di piring menginginkan tusukan garpu. Aku tak ingin kau sembunyikan maut di balik rempah dan bumbubumbu. Inilah makan malam pertama kita. Mungkin garam terlalu banyak menenggak anggur, menantang laut: bersiaplah untuk jatuh cinta*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar