Ibuku rusa jantan. Ayahku harimau betina. Tak ada yang bertanya begaimana mereka dulu bertemu, hingga mengikat janji sehidup semati, bersama selamanya, saling menyayangi, demi aku yang tak pernah tahu kenapa terlahir bertanduk dan bersisik.
Ketika hari pertama pergi ke sekolah temantemanku, guruguru dan juga kepala sekolahku menatapku takjub, kau ini apa, begitu mereka bertanya. Kuceritakan semua yang mengagumkan di hari pertama sekolahku pada ibu, sekaligus juga bertanya serupa temantemanku, aku ini apa. Ibu memandang mataku, penuh sayang dan hangat, “Nanti kalau ayah pulang akan ibu tanyakan pada ayahmu, kau itu apa.” Dan aku tak sabar menanti waktu berlalu siang itu.
Menjelang petang, ayah pulang, membawa sekarung rumput dan bungabunga tulip. Seperti biasa, ibu menggosokkan tanduknya pada punggung ayah, sebagai ucapan selamat datang dan salam sayang. Ayah mengibaskan ekor dan menggeram senang. Tanpa buang waktu aku bertanya, “Ayah aku ini apa?”
Ayah menatapku ingin tahu, lalu ibu membisikkan sesuatu di telinga ayah yang bergerak lucu. Aku memandang senang, tak sabar menunggu jawaban.
Akhirnya ayah duduk disampingku, membelai kulit tebalku yang bersisik dengan cakarnya. Seperti biasa, aku menggeliat dan tertawa geli. Ibuku mulai mengunyah rumput dan bungabunga tulip.
“Ayah, aku ini apa?” Bertanya aku di antara sengal nafas dan derai tawa.
“Kau naga.”
“Tapi ayah, aku tak bisa menyemburkan api dari mulut, pun tak ada sayap tumbuh di punggungku.”
“Kau naga, saat kau lahir, kami memotong sayap di punggungmu, agar kau tak bisa terbang jauh, meninggalkan ibu dan ayah. Kami berikan juga pemantik api di pangkal lidahmu kepada seorang tua pemintaminta paling miskin di sekitar sini. Sejak kami berikan sayap dan pemantik api itu, dia menghilang, tak pernah ada yang pernah melihatnya mengemis lagi”
“Tapi kenapa ayah dan ibu lakukan itu?”
“Karena kau anak kami satusatunya, yang kami sayangi sepenuh hati. Karena sayap itu mungkin akan membuat kau tersesat ke surga, dan kita akan saling kehilangan. Sedang api itu bisa jadi membakar tanpa sengaja, bikin rumah kita jadi macam neraka. Maka biar saja kau jadi mahluk tak bernama, asal kita selalu bersama tanpa waswas, nyaman dan bahagia. Bukankah sekarang kita sempurna, sebuah keluarga, saling menyayangi, saling memiliki, saling melindungi dan bersama selamanya di dunia kita.”
Kulihat ibu menautkan tanduknya pada leher ayah, ekor mereka saling melilit mesra. Sesaat kemudian ibu dan ayah merengkuh aku dalam pelukan erat.
“Apa masih ada yang meresahkanmu lagi?” Ibuku bertanya lembut.
“Tidak Ibu, biar saja mereka semua terus bertanya, aku ini apa. Aku tak peduli. Aku bukan naga, aku hanyalah anak ibu dan ayah.” Aku bukan naga, bukan apaapa, hanya anak ayah dan ibuku, harimau betina dan rusa jantan yang saling mencinta.
Temantemanku, bahkan guruguru dan kepala sekolahku masih sering bertanya, bahkan makin sering, pertanyaan yang ituitu saja, pertanyaan yang sama sejak hari pertama aku masuk sekolah: aku ini apa. Mereka sangat suka aku mengulangulang jawaban yang dikatakan ayahku. Dengan senang hati aku mengatakannya berulang kali pula untuk mereka, untuk semua yang ingin mendengar jawaban yang sama dariku: aku bukan naga, aku bukan apaapa, hanya anak ayah dan ibu, harimau betina dan rusa jantan yang saling mencinta. Dalam hati diamdiam aku bertaruh dengan diriku sendiri, kali ini mereka akan tertawa geli atau menitikkan airmata haru waktu mendengar jawabku*
Ketika hari pertama pergi ke sekolah temantemanku, guruguru dan juga kepala sekolahku menatapku takjub, kau ini apa, begitu mereka bertanya. Kuceritakan semua yang mengagumkan di hari pertama sekolahku pada ibu, sekaligus juga bertanya serupa temantemanku, aku ini apa. Ibu memandang mataku, penuh sayang dan hangat, “Nanti kalau ayah pulang akan ibu tanyakan pada ayahmu, kau itu apa.” Dan aku tak sabar menanti waktu berlalu siang itu.
Menjelang petang, ayah pulang, membawa sekarung rumput dan bungabunga tulip. Seperti biasa, ibu menggosokkan tanduknya pada punggung ayah, sebagai ucapan selamat datang dan salam sayang. Ayah mengibaskan ekor dan menggeram senang. Tanpa buang waktu aku bertanya, “Ayah aku ini apa?”
Ayah menatapku ingin tahu, lalu ibu membisikkan sesuatu di telinga ayah yang bergerak lucu. Aku memandang senang, tak sabar menunggu jawaban.
Akhirnya ayah duduk disampingku, membelai kulit tebalku yang bersisik dengan cakarnya. Seperti biasa, aku menggeliat dan tertawa geli. Ibuku mulai mengunyah rumput dan bungabunga tulip.
“Ayah, aku ini apa?” Bertanya aku di antara sengal nafas dan derai tawa.
“Kau naga.”
“Tapi ayah, aku tak bisa menyemburkan api dari mulut, pun tak ada sayap tumbuh di punggungku.”
“Kau naga, saat kau lahir, kami memotong sayap di punggungmu, agar kau tak bisa terbang jauh, meninggalkan ibu dan ayah. Kami berikan juga pemantik api di pangkal lidahmu kepada seorang tua pemintaminta paling miskin di sekitar sini. Sejak kami berikan sayap dan pemantik api itu, dia menghilang, tak pernah ada yang pernah melihatnya mengemis lagi”
“Tapi kenapa ayah dan ibu lakukan itu?”
“Karena kau anak kami satusatunya, yang kami sayangi sepenuh hati. Karena sayap itu mungkin akan membuat kau tersesat ke surga, dan kita akan saling kehilangan. Sedang api itu bisa jadi membakar tanpa sengaja, bikin rumah kita jadi macam neraka. Maka biar saja kau jadi mahluk tak bernama, asal kita selalu bersama tanpa waswas, nyaman dan bahagia. Bukankah sekarang kita sempurna, sebuah keluarga, saling menyayangi, saling memiliki, saling melindungi dan bersama selamanya di dunia kita.”
Kulihat ibu menautkan tanduknya pada leher ayah, ekor mereka saling melilit mesra. Sesaat kemudian ibu dan ayah merengkuh aku dalam pelukan erat.
“Apa masih ada yang meresahkanmu lagi?” Ibuku bertanya lembut.
“Tidak Ibu, biar saja mereka semua terus bertanya, aku ini apa. Aku tak peduli. Aku bukan naga, aku hanyalah anak ibu dan ayah.” Aku bukan naga, bukan apaapa, hanya anak ayah dan ibuku, harimau betina dan rusa jantan yang saling mencinta.
Temantemanku, bahkan guruguru dan kepala sekolahku masih sering bertanya, bahkan makin sering, pertanyaan yang ituitu saja, pertanyaan yang sama sejak hari pertama aku masuk sekolah: aku ini apa. Mereka sangat suka aku mengulangulang jawaban yang dikatakan ayahku. Dengan senang hati aku mengatakannya berulang kali pula untuk mereka, untuk semua yang ingin mendengar jawaban yang sama dariku: aku bukan naga, aku bukan apaapa, hanya anak ayah dan ibu, harimau betina dan rusa jantan yang saling mencinta. Dalam hati diamdiam aku bertaruh dengan diriku sendiri, kali ini mereka akan tertawa geli atau menitikkan airmata haru waktu mendengar jawabku*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar