Kamis, 23 Desember 2010

lagam

Meja berkaki empat, dua kiri, dua kanan. Dua depan, dua belakang. Mataku tak pandai berhitung, dan aku merasa beruntung, aku melihat kaki meja dengan kakiku yang terayun di bawahnya.  Mengayunkan angin di kolong meja, di antara kabel dan stavolt yang merah matanya, tak pernah redup. Mataku mendaki udara, menuju hurufhuruf, menuju bibir yang bergetar. Dengung nyamuk menyelubungi telinga, mencoba mengetuk tuts, huruf demi huruf, menjumpai peristiwa dan namanama. Telingaku tak pandai membaca. Kubaca namamu dengan ujung jemariku saja. Menyentuh sunyi, mengajak seekor tikus berlari kesana kemari. Namamu berserakan di depan wajahku, seperti not balok yang berkhianat pada tempo dan ketukan lagu.

Dini hari masih jauh, aku mendekat padamu, menyusutkan tubuh, sekecil liliput. Meja serupa raksasa, terbaring pasrah, aku melahap semua endapan di dadanya. Kertaskertas mengering, tuntaskan rindu pada sebuah desah panjang, belum lelah. Tanpa jengah aku terus menyusuri meja, mencari mimpi yang pernah kautinggalkan dalam sekejap senyuman, atau gumam tak jelas di sudut gelas. Malam sangat mahir menyekat cahaya, mengayunkan palu tepat di kepala. Bintang berputar riang di sisasisa mata dan telinga, sudah pecah, terbang menjauh, mendekati wajahmu yang pulas dalam peti kaca, di sekelilingnya hurufhuruf berbela sungkawa. Aku katakan, tak apaapa, tak apaapa untuk menghentikan ayunan kaki di bawah meja, tak apaapa untuk sebutir airmata di atas meja. Meja juga tak apaapa, dan tak peduli pada jumlah kakinya sendiri*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar