Kamis, 23 Desember 2010
hanyut
Semua yang mengalir itu begitu kukenal, seperti memandang wajahku pada sekeping kaca, lalu aku jatuh cinta. Membuat kaca resah dan mencoba mengingatkan, hanya bayangku saja. Salju yang meleleh itu hanya perumpamaan sangat rendah yang bisa kuciptakan untuk mengenang tiap sentuhmu di puncak rindu. Atau lampu yang menyalakan tiap lembar kertas bersyair yang dilahirkan malam. Tak ada jalan pulang menuju kau yang hilang. Dan aku hanya pandai berandaiandai tentang sebuah taman di mana kau jadi bangku yang menunggu aku menyandarkan tubuh. Kaca itu tertawa sampai mengucurkan airmata, mungkin sekarang kaca tahu, bahwa tak ada yang bisa menghadangmu mencairkan segala yang beku di mataku*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar