Kamis, 23 Desember 2010

aku bukan manusia

Jaman batu itu memanggilku, dengan mesra menyebutnyebut namaku. Kucoba lari dan sembunyi, tapi kau terus membuntuti aku, seperti punya ekor, seperti binatang. Mencari sarang, tanpa kenangan. Ketika malam turun dengan langkah anggun, jubahmu menyelimuti batubatu. Hangat, dan kau bacakan cerita lama itu lagi, cerita yang mematahkan leher waktu, sementara akal terlena pada kilau sebuah parang. Kau yang tak punya rasa gentar, aku bergetar, kau halilintar, menyambar rantingranting yang tumbuh dari jiwa.  Kenapa lagunya begitu purba ?

Siapa yang mengijinkan aku bertanya ? Siapa ? Mereka yang pintarpintar itu, mereka yang berteriakteriak; bakar, bakar, bakar, lalu melumuri nisanku dengan minyak tanah. Lalu tiing, crezz…nyaring di hening malam, biar api melumat masa lalu. Bukankah ini terlampau indah. Suhu titik didih selalu melebur semua jadi bubur, kuburku hangus, seperti sebuah panci sayur di atas kompor waktu aku lupa. Ya, aku bisa lupakan sebuah panci sampai gosong, dan mengingatmu di setiap ruang hitam. Kita akan bersama menunggu seorang korban, sebab kita tahu bahwa dalam hati kecilnya, semua manusia ingin jadi pahlawan. Tapi, kau tertawa, kau bilang senang. Aku tanya, apa karena jadi pahlawan. Kau jawab, karena aku ingat kau bukan manusia.

Hak. Hak. Hak. Sesuap lagi luka, tak akan jadi soal. Cuma manusia yang suka mengobati luka, membungkusnya dengan kapas dan kain kasa, membuat luka tak bisa bernafas dalam genangan cairan anti kuman. Padahal luka sangat ingin melihat dunia. Kalau luka bisa memilih, tentu tak akan sudi luka tumbuh di tubuh manusia. Binatang jauh lebih peka, mau menjilati semua luka dengan lidahnya sendiri. Bukankah itu romantic, juga heroik, jadi pahlawannya adalah seekor anjing yang meringkuk di sudut malam, tak henti menjilati lukanya sendiri. Lidahnya nyaris beku, kelu, belum habis luka, ada saja yang baru datang.

Marilah kita belajar menyayangi luka, kata seorang tua yang kesepian di ruang rapat. Pasti sudah habis nalar, ditelan lapar. Suaranya bijak dan dalam, tapi matanya nakal, begitu ingin mengintip semua luka. Luka yang merah dan basah, bekas tusukan pedang tak bertuan. Lalu ada yang bernyanyi, lagu purba itu lagi. Jadilah anjing kecil dalam lagu itu, anjing yang periang, tanpa takut menerabas kawat berduri, demi menemui seorang manusia yang berharap dikutuk jadi anjing, agar belajar menyayangi luka.

Dia hanya mati, tak pergi, hanya mati. Seperti semua yang terbakar dan terluka. Hanya mati yang tak bisa pergi*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar