Kamis, 23 Desember 2010

hujan untukmu

Kurasa kau terlalu pintar membaca awan, pesanpesan, dan pelangi yang berserakan di genangan air. Pasti sudah terbaca olehmu setiap kata yang kupahat di batangbatang pohon itu, ataukah sudah tumbang semua ruang yang dulu kutanam di dadamu. Tapi, aku lebih suka selalu tak peduli pada uap udara di kaca jendela dan debudebu pada bukubuku. Aku lebih suka selalu menuliskan sesuatu di semua kekacauan cuaca. Mencoretcoret uap udara di kaca jendela musim hujan. Menulis namamu di sampul buku yang tertutup debu musim kemarau. Lalu berharap kau menjelma batangbatang pohon yang memahat pesan di punggungku.

Apakah waktu, bisakah kuhirup sisa nafasmu, sebelum waktu membawa kembali mendung, pelangi dan pohonpohon kembali kepada hutan, hutan yang hilang dalam perjalanan mencari hujan. Hujan mungkin mengirim pesan yang tak ingin kaubaca, dan pelangi itu berbaring letih, menyerahkan warnawarnanya pada lumpur dan jalanjalan kota. Hutan terus mencari hujan, hujan masih mengirim pesan, pesan yang memahat batangbatang pohon, batangbatang pohon menumpahkan getah, serupa nanah menggenangi luka, membuatnya berkilat. Kau terlalu pintar untuk tak membaca yang sembunyi di bibirku.  Aku terlampau sayang untuk menimbun semua yang berguguran di rambutmu.

Aku tahu kau pasti mengerti. Tak peduli waktu, selalu masih ada kelopakkelopak bunga yang terentang, menyerahkan harum pada angin, angin yang mengantarkan kelopakkelopak bunga pada jalanjalanmu, melapisi kelabu dengan warnawarni, mewangi udara: ketika kau melangkah ke arah musim hujan di mana aku terbenam. Hujan yang akan membuat kau tertawa, kau segera akan terlalu pintar untuk bahagia, tanpa membaca apaapa. Hanya ada hujan yang akan membuat kau tertawa.

Kau segera akan terlalu pintar untuk bahagia, tanpa membaca apaapa* 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar