Sekarang saatnya menuang kecap pada semangkuk kuah. Kulihat hitam menjalari genangan, dan bertanya, pada televisi, apa ada yang sedang berbohong tentang rasa. Katanya rasa tak pernah bohong, lantas siapa yang sedang berbohong dan membohongi rasa. Kuah itu sungguh hitam, seperti halamanhalaman koran, penuh warna hitam, mengapung di udara yang mencari jendela. Seperti kuah, mencari lidah yang tak suka berbohong tentang rasa.
Aku ingat emak pernah bilang, jangan mengeluh, meski kuah terlalu panas atau tawar tanpa rasa. Tak perlu bicara rasa, makan saja, sebelum sebuah peluru menembus matamu. Emak selalu tahu apa yang tak penting, apa yang tak layak digubris. Emak bisa menyulap air mendidih jadi kaldu gurih, aku percaya itu. Aku percaya lidahku tak pernah bohong tentang rasa, hanya lupa. Emak tak pernah bilang kalau tak boleh lupa. Mungkin aku bisa belajar pada seekor anjing, mereka tak pernah lupa dimana pernah mengubur tulang.
Ahh...bukankah itu ide cemerlang, emak tertawa meski bingung menggenangi matanya.
Kecap selalu hitam, rasa tak pernah bohong, emak selalu pintar, anjing tak pernah lupa. Lalu aku, masih setia menghirup aroma kuah hitam bikinan emak sambil baca koran, masih tak berani berterus terang, masih dungu, masih tak bisa mengingat wajahmu.
Kelak jika aku mati, tertembak senapan temanku, aku mau anjinganjing yang menguburkan jasadku. Agar emak bisa bertanya pada anjing yang tak pernah lupa dimana tulangku ditanam. Agar setiap minggu, emak bawakan aku semangkuk kuah dengan toping kecap hitam yang tak pernah berbohong tentang rasa. Itu harapan yang indah, iya kan emak? Seindah hitam rambut dan merah bibirbibir di televisi. Suatu hari Koran pagi akan memuat kisah tentang tumbuhnya sebuah kolam teratai dari sebuah makam. Airnya gurih, macam kaldu ikan kesukaanmu, dan teratainya sungguhsungguh sewarna bibirku*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar