Kamis, 23 Desember 2010

pagi yang tumbuh dari mimpi

Jamur tumbuh di tubuh roti, menandai pagi kesekian kali dalam lambung, kosong dan hening. Hijau dan ungu, langit sebelum fajar belajar memberi warna mata ikan dalam perut kucing yang lapar. Semutsemut keluar dari roti berjamur. Bermunculan, persis barisan angan, menginjaknginjak kenangan yang tergantung di sarang labalaba.

Semalaman labalaba menyulam sarang, kini labalaba senang memandangi sarangnya menjaring pagi yang menipu diri sendiri. Ini bukan tentang waktu atau tubuh. Bukan untuk yang berdetak dan berdenyut. Tentang kau saja, tentang periperi penghuni jamur roti. Meneriaki pagi dengan katakata sumbang dalam mulut ikan. Tentang kucing yang mendengkur dalam pelukan. Tentang pagi yang tumbuh dari mimpi.

Tentang roti yang bermimpi jadi tarian gandum, sarang lebah dan butiran embun. Langit sebelum fajar mestinya sudah tamat belajar, mewarnai mata ikan dalam lambung kucing. Merah muda serupa senyummu. Kudengar jamur bernyanyi,tak sumbang lagi. Kucing dalam pelukan kembali bermimpi, dengkurnya terulur jauh, menyentuh merah muda senyummu.

Jamur tersenyum di wajah roti. Sarang labalaba menjaring segala yang indah : ladang gandum, madu, dan butiran embun*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar