Kamis, 23 Desember 2010

mia..uw, miss..u, mia..uw, miss..u

Kucing itu mungkin berdusta waktu berkata, miauw… tapi aku mendengar rintihnya. Seperti hujan, seperti tangisan yang terlelap dekat jantungmu. Lalu aku terbang ke dataran yang belum kukenal. Sebuah letusan menggelapkan kenangan. Dan aku mulai menari lagi, bersama bangkai anakanak kucing dalam selimut. Meyakinkan hati, bahwa mati itu hanya sebuah titik di ujung takdir. Lalu hening, dan kucing itu menerjemahkan lagulagu dalam satu bunyi, miauw. Miauw itu kuartikan : miss u. Miauw itu dikatakan berkalikali oleh kucing dalam pelukanku. Dia tersipu, tapi tak berhenti berkata miauw untuk hujan dan jantungmu yang basah*
appoter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar