Kamis, 23 Desember 2010

lingkaran ilalang

Keningku berlubang di sebuah siang, seperti ada sebuah pot tanah liat tumbuh di keningku. Karena ada tangan akar menjulur, dengan kuku berwarna embun menggali keningku. Meraup tanah yang berjatuhan, membuat pot dari tanah yang berjatuhan dari keningku. Memanggang pot tanah liat hingga padat, matang dan berbentuk lorong bundar kecil dengan dasar buntu, melekat di keningku. Seperti tiang bendera menancap di tengah upacara, tentu pot bunga jauh lebih kecil, lebih lebar dan beruang. Setiap orang yang memandang keningku, ingin mengambil pot tanah liat yang tumbuh di situ. Tapi tangan akar memegang pot eraterat, mengisinya dengan tanah yang keluar dari setiap serabutnya sendiri. Lunak dan sejuk, hingga hujan ingin menyentuhnya. Cacing tanah mendengar berita dari angin dan mendung, ada sebuah pot bunga penuh tanah lembab di kening manusia. Cacing tanah ingin berkunjung, mungkin juga ingin hijrah dan menetap di sana.

Aku mulai gusar pada segala yang melingkar, pada lengkung alisku sendiri, pada rambut halus di batas kepala dan kening. Terlebih lagi pada pot penuh tanah yang melekat erat di kening. Semuanya bundar, melingkarkan ruang. Karena ruang selalu melontarkan tanya, kapan aku datang? Dan aku tak suka menjawab tanya tentang kapan. Seperti aku tak suka bertanya tentang semua yang hilang. Keningku mulai berdenyut gelisah, seperti ada petasan berdatangan. Sumbunya mencaricari api. Tangan akar itu kembali terulur ke keningku, membawa korek api. Mungkin sebentar lagi, sumbu akan disulut, bara merayap mendekati hulu petasan. Aku diamdiam berharap semoga ledakan petasan cukup kuat, melantakkan pot tanah liat, hingga pecah, hingga tanahnya bisa kembali pulang.

Beberapa bunga tumbuh terburuburu, dari bintang yang meloncat dari ujung petasan. Lingkaran itu hampir saja lenyap tanpa bekas. Semua akan kembali seperti pada awal mula, aku jadi bayi, dengan lengkung alis yang samar dan lembut, cacingcacing berbaris, membentuk polapola dengan tubuhnya. Aku tertawa. Melihat tangan akar memetik sekuntum bunga, sekuntum bunga jingga dari mata terpejam yang tumbuh dari keningku yang merah muda. Petasan hanya alasan untuk sebuah kebenaran yang meledak. Alasan untuk menumbuhkan bungabunga bukan dari tanah. Tangan akar menyisir rambutku, serabutnya halus dan sabar, menghalau tanah ke arah senja* 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar