Setiap menjelang pagi aku mengunjungi sebuah dunia di mana waktu berjalan lebih lambat dari putaran jarum jam. Dunia berselubung kabut, dengan segunung daun dan rumput kering, macammacam kemasan dan barang bekas. Udara berwarna hijau pucat di sana, membuat fajar jingga terlihat biru keunguan, mengingatkanku pada kantong mata yang kurang tidur: di situlah dia berjalan lambatlambat. Menikmati matahari yang pelanpelan mendaki langit.
Seorang perempuan dengan tatapan mata penuh harap, bergegas berjalan ke arah gunung sampah. Di mata perempuan itu, tempat itu nampak seperti sebuah bukit dengan segala warna, kusam dan berseri, buram juga bersinar. Tangannya terulur tanpa ragu menyentuh bukit sampah, menyingkirkan semua sisasisa dan bendabenda yang menumpuk, seperti sedang mencari yang hilang dan terbuang. Bunyi daundaun kering dan tumbukan bendabenda terdengar merdu, penuh cemas dan rindu.
Perempuan itu terus menggali, memindahkan semua yang ada di atas bukit sampah ke tanah, dekat telapak kakinya. Perempuan itu terus bekerja tanpa lelah, sampai tersentuh olehnya bungabunga kering. Bungabunga layu yang selalu dibuang dari jendelajendela tinggi bertirai cantik, jauh di atas sana, dari dunia yang bukan miliknya. Dia tersenyum puas dan lega, lalu dipisahkannya bungabunga kering dari tumpukan sampah, ditaruh pada pangkuannya, sampai sepelukan banyaknya. Dia terlihat sangat bahagia, ketika membenamkan wajahnya pada bungabunga kering dan layu dalam dekapannya. Kulihat airmataku mengalir di pipinya bersama gumam lembut dari bibirnya,”Kekasihku, kekasihku, terimakasih… Aku tahu pasti akan kaukirimkan lagi pagi ini, sepelukan bunga paling indah, merekah wangi.”
Langit pasti juga melihat dunia itu: perempuan, gunung sampah dan bungabunga kering. Sesaat kemudian gerimis merintik di daundaun pisang, memperdengarkan sebuah lagu pengantar tidur yang sudah dan pernah terlupa. Kepada matahari, gerimis berbisik lembut dan jernih,”Relakan pagi ini sejenak, biar bungabunga di pelukan perempuan itu tak kering lagi, berseri dan mekar kembali. Biar kelopakkelopak bunga itu menampung airmata dunia.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar