Kamis, 23 Desember 2010

taman di atas bantal

Setiap malam aku gelisah, sebuah bantal mengganggu tidurku dengan suara tangisnya. Airmatanya membasahi rambutku. Bantal makin hari bertambah manja, merengek di belakang telinga. Aku tak menyerah, belum menyerah. Menanti dan menanti kamarku tumbuh cukup tinggi, hingga jendelanya mendekati langit, jauh dari bumi. Dengan begitu aku bisa terbang di atas bantal, menyentuh awan, sebelum rebah di jalanan. Tapi bantal tak serapuh pigura, yang sudah terbang lebih dulu, sudah berkeping di atas trotoar, gambarmu terus memanggilmanggil bantalku. Mengusik mimpi, membuat bantal bertambah cengeng lagi. Kudekap bantal eraterat, lenganku basah. Serupa taman kehujanan, tak ada siapasiapa.

Lewat tengah malam, jendela tak sabar lagi menanti hujan reda, terbang menghilang, meninggalkan dinding kamar, aku, dan bantal yang sudah ditumbuhi mawar. Kelopak bunganya beberapa terlepas, berjatuhan di wajahku, bersama duriduri yang patah. Mereka berkata, jendela bukan hilang, dia terbang menuju taman. Menghampiri hujan yang duduk sendiri, kesepian dan menangis pilu.

Kudekap bantal lebih erat, meski tak mengerti: apa suara tangis itu telah menciptakan taman, menumbuhkan pohon mawar yang melubangi dadaku*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar