Kamis, 23 Desember 2010

senandung subuh

Aku merayu sebuah pintu yang melayang di udara, agar mau hinggap di dinding kamarku. Ketika pintu itu sudah berdiri kokoh, akan kuketuk, kupinta pintu terbuka tepat di depan matamu yang terpejam. Kau tak perlu membuka mata dan terjaga, oleh derit pintu, akupun akan melangkah hatihati. Berbaring tanpa suara di dadamu, mendengar detak mimpi di jantungmu. Diamlah, seperti aku, diam dan terus terpejam, sampai terdengar ketukan lagi di pintu. Pintu pasti tahu untuk siapa harus terbuka, siapa yang kuharapkan datang mengunjungi kita : sebuah dunia.

Dunia yang mencari pintu surga dalam mimpi kita, lalu sebuah kecupan akan membangunkan kita. Tak usah kaucatat lagi, semua peristiwa di luar sana. Biarkan mata terlena pada denting embun, biarkan bibir dahaga pada kilau daundaun yang baru tumbuh, bersemi di ambang jendela.

Kau dan aku tak akan terusik oleh runtuhnya bintangbintang di atap rumah. Hanya saling menggenggam dalam mimpi, menanti langit membuka pintu bagi warnawarna keemasan fajar, sebentar lagi dia pasti datang, mewarnai mimpi kita dengan senyum bocahbocah yang berlari riang di bawah hujan.

Dan, hutanhutan yang mengetuk pintu kota, di mana kita terbiasa menuliskan resah. Tak ada yang salah, kita hanya perlu sebuah pintu yang mau mengerti, mau membuka diri untuk sebuah mimpi. Lalu semua jadi tergenapi, batangbatang padi menguning, keemasan sewarna fajar. Sebening sungai pada mata air di atas bukit. Sejernih air mata ibu yang membasuh wajah setiap anak dengan doadoa.

Tidurlah. Tidurlah lelap, di malammalam lindap. Akan kujaga pintu mimpi paling indah, untukmu, agar selalu berdiri kokoh di dinding kamarmu, selalu terbuka tanpa kau harus mengetuknya*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar