Kamis, 23 Desember 2010

surat pesawat

Telah selesai kutuliskan selembar surat. Kuikat kalimatkalimatnya dengan pita biru, warna kesukaanmu. Tak akan ada amplop dan petugas pos yang sanggup mengantar suratku, aku masih kecil, tak punya uang untuk pergi ke kantor pos dan beli perangko, sedang tempatmu pasti amatlah jauh. Maka biar saja surat ini kulipat jadi pesawat, untuk kuletakkan hatihati di sebelah bantal. Sebelum terlelap kuucapkan doa dalam hati,"Malaikat yang baik hati, jika kau bersedia, kau pasti bisa mengantarkan suratku. Tapi kau begitu pintar membuat mujizat, maka kulipat suratku jadi pesawat, agar bisa kausuruh suratku terbang sendiri ke sebuah alamat yang nama jalannya tak pernah ada di seluruh dunia. Untuk kesediaanmu mengabulkan doaku, aku berjanji akan menyerahkan padamu, semua permen, es krim dan coklat yang kudapat besok pagi."

Itulah yang terjadi setiap malam sejak aku mengenalmu dalam sebuah mimpi yang tak bisa kuulang lagi. Pada sebuah padang rumput, terang dan sejuk sepanjang hari, penuh bungabunga tertawa bahagia. Kau datang, begitu saja muncul, seperti turun dari salah satu gumpalan awan perak yang berarak di biru angkasa. Belum habis takjubku memandang senyum di matamu kau berkata,"Kutemukan bukumu yang terjatuh di perempatan jalan itu, saat kau berlarilari ketakutan dari kenyataan, dengan tas sekolahmu yang berlubang. Kubaca tulisanmu, dan kupikir suatu hari aku harus menemuimu, di sini, di padang rumput, di mana tumbuh bungabunga dandelion tak terhitung banyaknya."

"Ohh..."

"Tak senangkah kau berjumpa denganku di sini ?"

"Ohh..."

"Kalau kau sungguh tak nyaman, kau bisa meninggalkan tempat ini segera, mudah sekali caranya. Pejamkan saja matamu, tak lama kau akan berada kembali di tempat tidurmu yang hangat dan lembut, mungkin kau rindu pada bunga matahari yang tumbuh dari alas tidurmu. Maaf, aku tak bilang dulu, langsung saja mengajakmu ke sini, sebenarnya aku juga berniat mengembalikan bukumu yang ada padaku."

"Ohh...tidak. Aku belum ingin pulang sekarang." Aku menjawabnya cepatcepat, seakan takut dia keburu menghilang bersama padang rumputnya. Aku tak bisa mengingat rupanya dengan jelas, aku hanya ingat pada matanya ada sebuah telaga, yang pernah kutuliskan dalam bukuku, telaga yang lebih hijau dan biru dari padang rumput dan langit. Kepakkan sayapsayap angsa membentuk bayangbayang cantik setiap kali matanya meredup oleh silau cahaya matahari. Bunyi kecipak sirip ikan bisa kudengar dengan jelas saban kali alisnya bergerak ramah dalam senyuman, sepertinya dia selalu tersenyum, senyum yang sejernih airmata dalam bola lampuku, bola lampu yang kusembunyikan baikbaik di suatu tempat rahasia. Hanya menjelang tidur, ketika sudah kukunci pintu kamarku, bola lampu airmata itu kuletakkan di dekat bantalku, dekat pasawat suratku. Sungguh ajaib segalanya ada padanya di padang rumput ini ; bagaimana aku bisa menjelaskan padanya apa yang membuatku tak mampu berkatakata.

"Hahaha...janganlah terlalu heran dan terkejut, tentang aku dan tempat ini."

Kebahagiaan itu seperti bungabunga dandelion, jika diletakkan begitu saja di telapak tangan, tak lama akan terbang menghilang tertiup angin. Namun kalau digengggam eraterat, bungabunga itu juga akan hancur tak bersisa. Mungkin yang terbaik adalah jangan pernah menyentuh atau memetiknya, biarkan saja dia berayunayun pada tangkainya di padang rumput

Ternyata dia juga bisa membaca pikiranku. Apakah ini mimpi? Ini pasti mimpi. Seperti semua mimpi buruk yang terkadang hadir begitu nyata, seperti bukan mimpi. Pasti begitu adanya, umurku baru sebelas tahun, bagaimana mungkin aku bisa memahami semua peristiwa. Mungkin memang begitu adanya yang terjadi dalam hidup semua anak perempuan. Atau mungkin hanya anakanak perempuan yang terlampau suka bermimpi dan menuliskan mimpinya dalam sebuah buku murahan yang akan mengalami kejadian aneh seperti aku. Aku tak tahu, aku bahkan tak tahu apakah aku seperti anak lelaki di hadapanku, hanya mimpi ?

Sangat mungkin, akulah mimpi itu sendiri. Aku mimipi buruk ibu dan ayahku. Hingga, setiap kali melihatku ibu akan menghardikku sekuat suaranya sebelum melemparkan benda apa saja yang bisa diraihnya ke arahku, mungkin ibu berharap bisa mengejutkan diri sendiri, agar terbangun dari tidurnya, meninggalkan aku, mimpi buruknya. Seperti itu pula yang terjadi pada ayahku, setelah lelah bekerja sehari penuh, ayahku pasti ingin tidur lelap, kalaupun bermimpi, sudah pasti mimpi indah yang dikehendaki, bukan mimpi buruk. Tibatiba aku paham kenapa ayahku selalu hanya bisa diam atau mengatakan makian di depan wajahku. "Ahh, Ibu dan Ayah, maafkan aku..."

"Maafkan aku Ibu dan Ayah, meski berkalikali sudah kau ingin mengenyahkan aku, mimpi burukmu : sampai hari ini aku belum bisa pergi. Karena Ibu dan Ayah adalah mimpimimpi indahku, yang tek pernah bisa kulepaskan, betapapun kalian membenci, memaki atau melemparkan bendabenda apapun ke arahku. Bahkan ketika Ibu menampar wajahku, dan Ayah menghunus pisau pada leherku; masih tak bisa aku pergi, tak pernah bisa berlari menjauh dari satusatunya mimpi indah yang kumiliki. Maafkan aku...Sabtu, 13 Mei, hanpir tengah malam." Dia membaca salah satu bagian catatan dari bukuku.

Aku tak berani mengedipkan mata, meski ada cahaya silau menerpa, serasa hampir membutakan mataku. Aku takut jika aku berkedip, aku akan segera pulang, kembali ke atas tempat tidurku, tidur dan bermimpi indah tentang sebuah rumah kokoh berdinding putih, di mana tinggal ibu, ayah dan ke tiga kakak perempuanku. Pada hari Minggu kami akan berkumpul di rumah, ibu memasak sup makaroni dengan banyak mentega dan sosis, ayah berkebun dan akan mengajakku menunggang punggungnya, beberapa kali putaran kudakudaan di teras belakang. Mimpi itu, entah sudah berapa kali kutulis dan kuulang lagi. Aku sungguh seorang anak perempuan egois yang hanya memikirkan diriku sendiri, dengan terus menerus menggenggam mimpi indahku sendiri. Memaksa ibu dan ayahku lagilagi harus bermimpi buruk tentang keberadaanku dalam hidup mereka.

"Siapapun kau, aku tak peduli. Tapi, bolehkah aku terus tinggal di padang rumput ini bersamamu ?"

Sepertinya dia mengangguk, mata telaganya masih terasa teduh, saat tanpa sengaja kupejamkan mata, tak tahan oleh cahaya silau yang menerpa mata. Aku sudah kembali, dalam sebuah ruang yang suram, tak ada dinding putih dan kokoh, tak ada bunga matahari tumbuh dari alas tidurku. Bahkan buku catatanku tak ada padaku lagi. Surat pesawat itu lusuh, basah, dan nyaris koyak. Kuremas surat pesawat itu secepatnya, jika ada malaikat yang datang hari ini, pastilah tak akan sudi ia menyentuh surat pesawat yang lecek, basah dan kusam oleh lelehan ingus dan liur yang mengalir semalaman. Bagus juga, mungkin malaikat juga tahu bahwa tak akan pernah aku punya permen, es krim atau coklat yang kujanjikan sebagai imbalan menerbangkan surat pesawatku.

Aku duduk bersila, hari masih gelap, kudengar dengkur ayahku, dan suarasuara langkah kaki ibu, aku menjangkau tas sekolahku di lantai, mengelus bagian bawahnya yang berlubang sekepalan tangan. Tak ada alat atau bahan untuk memperbaiki dan menambal lubangnya. Tantu sangat tak mungkin untuk mengadu pada ibu. Aku selalu merasa seperti hanya tinggal sendiri di tempat suram ini. Kedua kakakku telah pergi bekerja, yang seorang lagi selalu menempel di belakang ibuku, mengerjakan segala sesuatu yang berguna, begitu ibu pernah berkata, tak seperti aku yang cuma bisa bengong atau menangis. Seperti sekarang, sejak buku catatanku hilang tanpa jejak, dan bola lampu airmata itu pecah saat terjatuh dari tas sekolah yang berlubang.

"Nilaaa...!! Belum bangun, kau pemalas ?!" Suara ibuku benarbenar membangunkan aku dari semua mimpi. Aku segera bangkit, meremas sekali lagi surat pasawatku. Ibu bisa menjewer telingaku kuatkuat jika tahu aku membuat sebuah pesawat terbang dari kertas sobekan buku tulis. Semua bisa jadi uang, pun selembar kertas, tak pantas disiasiakan jadi sebuah benda konyol macam surat pesawat. Ibu tak akan mengerti, lagipula aku tak tahu bagaimana harus kujelaskan bahwa surat pesawat itu kubuat karena aku sayang kepada ibu, karena aku ingin bisa berjumpa kembali dengan dia yang menemukan dan menyimpan buku catatanku. Karena aku sayang ibu, tak ingin lagi jadi mimpi buruknya setiap hari, dan demi sayangku kepada ibuku, akan kulepaskan satusatunya mimpi indahku. Mimpi indahku untuk selalu berada di dekat ibu dan ayah.

"Sabarlah Ibu, mungkin nanti malam malaikat akan datang, mau menerbangkan surat pesawatku. Setelah baca suratku, dia akan membawaku ke padang rumputnya sekali lagi, aku bisa tinggal di sana seterusnya. Jadi besok pagi Ibu akan terbangun dan tak akan pernah bermimpi buruk tentangku lagi." Aku berbisik dalam hati sambil melangkah mendekati suara ibu*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar