Serupa penyadap tersesat di kebun karet, akan kusayat tubuhmu. Alirkan getahgetah liat sederas kau bisa, jangan ada getir kauperam lagi. Ember kita akan penuh; kujerang di atas biru api demi arti yang sembunyi dalam rintih lambung dan derit pintu. Karena angin itu selalu dengki pada suarasuara riang dari kebun sebelah; tiada guna telinga, cuma bikin kau tahu nyanyianku tak bisa mengantar tidurmu.
Maka kusayat kau. Luka adalah sebuah lorong indah berujung istana. Darah itu merah, seperti katakata pembantai yang sering singgah dalam mimpimimpi ganjil di ganggang kecil, dimana jejak langkah jadi seluas semudra. Dimana musim tak pernah kemarau di matamu. Kau akan tahu akulah malaikat penjagamu, satusatunya pelindungmu dari tatapan iri dari jendelajendela bercahaya terang di atas sana. Mata dan kakimu mesti belajar; kau bisa terjatuh, memar, atau terbakar jika menatap terang terlalu dalam.
Aku akan bergegas selesaikan semua yang harus kuselamatkan. Sebentar saja kerjaku, usai sudah semua serpih yang kita butuh untuk mengisi kuali. Setelahnya, kita bisa duduk bersama pada sebuah meja beralas putih, dengan lilin ungu yang membuat bayangbayang kita berdansa. Menunggu seseorang datang menghidangkan kaldu hangat dan segelas coklat. Untukmu semua, hirup pelahan aroma lezatnya. Darahmu akan jernih, syarafmu utuh kembali. Kau akan tumbuh sehat dan ceria, dengan telinga, mulut, mata, dan kaki yang baru.
Kini tiba waktuku, bersiapsiap membentangkan lengan lebarlebar, saat kau menatapku penuh terima kasih, mungkin kau ingin sekali mendekapku penuh sayang. Matamu sudah teramat jernih, hingga bisa kaulihat lagi surga di telapak kakiku yang merah, menginjak genangan darah. Sekarang baru layak kausapa aku dengan sebutan bunda.
Sudah kusisipkan surga di setiap luka*
Maka kusayat kau. Luka adalah sebuah lorong indah berujung istana. Darah itu merah, seperti katakata pembantai yang sering singgah dalam mimpimimpi ganjil di ganggang kecil, dimana jejak langkah jadi seluas semudra. Dimana musim tak pernah kemarau di matamu. Kau akan tahu akulah malaikat penjagamu, satusatunya pelindungmu dari tatapan iri dari jendelajendela bercahaya terang di atas sana. Mata dan kakimu mesti belajar; kau bisa terjatuh, memar, atau terbakar jika menatap terang terlalu dalam.
Aku akan bergegas selesaikan semua yang harus kuselamatkan. Sebentar saja kerjaku, usai sudah semua serpih yang kita butuh untuk mengisi kuali. Setelahnya, kita bisa duduk bersama pada sebuah meja beralas putih, dengan lilin ungu yang membuat bayangbayang kita berdansa. Menunggu seseorang datang menghidangkan kaldu hangat dan segelas coklat. Untukmu semua, hirup pelahan aroma lezatnya. Darahmu akan jernih, syarafmu utuh kembali. Kau akan tumbuh sehat dan ceria, dengan telinga, mulut, mata, dan kaki yang baru.
Kini tiba waktuku, bersiapsiap membentangkan lengan lebarlebar, saat kau menatapku penuh terima kasih, mungkin kau ingin sekali mendekapku penuh sayang. Matamu sudah teramat jernih, hingga bisa kaulihat lagi surga di telapak kakiku yang merah, menginjak genangan darah. Sekarang baru layak kausapa aku dengan sebutan bunda.
Sudah kusisipkan surga di setiap luka*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar