Sabtu, 11 Desember 2010
siluet pagi
Malam masih menyisakan remang dilingkaran hitam mata. Warnawarni puisi berlarian ke timur lepaskan rayu dari pelukmu. Kujerang secangkir embun dari uap nafasmu, kukumpul serbuk hitam dari asbak, sepuluh menit kecupan hangat, kuaduk dalam kabut. Wangi kafein bercampur nikotin kembali mengurung ruang, lalu aku menyusuri lagi jejak jemarimu pada wajah dalam cermin, mengulang kembali getar nadanada pengiring dansa. Betapa kau buat malam dan pagi setia berebut kata. Kudengar suara penjaja koran pagi, anehnya semuanya cumacuma. Beritaberita tentang kunjungan malaikat ke flatflat yang tak memasang tirai pada bingkai jendela, rumah sakit, selsel penjara, taman, hutan dan bukitbukit, mataair hingga muara. Aku membacanya serupa memainkan sendok pada mangkok. Tak ada yang ragu bahwa fajar kerap datang terlalu awal, berharap sempat menggoda bintangbintang yang cepat mengerling sembunyi disayapsayap mimpi. Kulihat beberapa kilaunya tertinggal pada tidurmu yang tersenyum, kunikmati sepenuh hati bersama secangkir harum kopi pagi, begitu merdu suara langkah jarum jam dinding memecah sunyi…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar