Sabtu, 11 Desember 2010

kekasih sunyi

“Aku pergi dulu ya, mengunjungi pagi..” pamitku pada sunyi. Kudengar kicau buruing pagi bersahut menyambut sunyi yang tertunduk lesu, mungkin kehilangan, mungkin takut aku takkan pernah kembali, terpikat pada riuhnya hari.

Aku berjalan cepat tanpa menengok kebelakang, tak ingin terjerat iba pada malam.
Jalanjalan ramai berhias, warnawarni, serupa keranjang parsel, dibungkus plastik transparan, berpita merahputih, berkilau segala yang ada didalamnya. Kudengar nadanada riang, katakata terbang berputar dikeningku, menawarkan macammacam hadiah dan potongan harga.

Tibatiba kuteringat pada sunyi yang pasti sedang setia menanti, terpikir olehku, bawakan sunyi sesuatu sebagai buah tangan, tapi apakah gerangan yang bisa buat sunyi gembira. Kususuri pasar, sayur, ikan, segala makanan dan minuman juga benda diteriakkan penjualnya pada setiap yang lewat. Sepertinya takkan ada yang cocok dengan selera sunyi yang sahaja.

Lalu aku masuki sebuah mall, gedung megah, lantai licin, harum udara, kerinduanku merekah tak tertahan, mungkin sunyi akan suka berkunjung ke sini, sepertinya tempat ini berkelas, sesuai standar sunyi. Kulihat ruangruang indah berisi bendabenda menakjubkan, semua bersih dan berkilat, pastinya harganya semahal nilainya. Aku terus berjalan, nikmati semua bentuk dan warna, mencoba merekareka apa yang sekiranya pantas kuberi untuk sunyiku tersayang.
Hingga kulihat sebuah kotak musik. Mungil dan indah. Sepasang kekasih mungil berdansa. Saling peluk dan berputar seiring jernih denting nadanada, sebuah lagu yang seperti pernah begitu akrab dimasa lalu, lagu yang kulupa, namun selalu kurindu sepenuh jiwa. Seolah terpaku mataku padanya Tak dapat lagi kualihkan pandang dari kotak musik cantik ini.

Seorang wanita mendekati, tersenyum dan bertanya; “bagus ya, kau suka, kenapa tak beli saja, hanya ini satusatunya yang ada diseluruh dunia..”

“Indah sekali, sungguhkah ini satusatunya kotak musik di bumi? Berapa harganya..”

“Begitulah nyatanya ini satusatunya yang tersisa, kudapat dari seorang nenek tua sekarat yang kelaparan, dan beliau rela menukar ini dengan sepiring nasi hangat dan teh, asalkan aku ijinkan dia berlamalama mengucapkan selamat tinggal pada benda ini..beberapa hari berselang, seorang wanita muda datang, sangat berhasrat miliki ini, maka seperti layaknya pedagang kutawarkan harga yang kupikir pantas, mengingat betapa berarti benda ini..tapi sayang wanita itu tak punya cukup uang, hingga terpaksa berlalu tanpa membawa ini..”

Entah kenapa tibatiba aku bergidik memandang senyum wanita didepanku, seakan ada taring dan seringai ngeri akan muncul di balik senyumnya yang tak henti merekah. Sedikit gugup dan buruburu kutanya lagi, “ah, begitu..jadi berapakah harganya..”

“Tak perlu kau bayar dengan uang, akan kuberi ini untuk kau bawa pulang, jika kau beri kesunyian yang kaumiliki..” suara wanita itu serupa desah burung gagak ditelingaku.
Aku menatapnya ngeri,”apa maksudmu, mengapa kau bilang begitu..apa yang kau tau tentang sunyiku..”

“Tak perlu gelisah, tenanglah..tak ada apaapa yang mesti kauresahkan..tapi begitulah. Seperti telah kukatakan tadi, ini adalah kotak musik satusatunya didunia. Dalam kotak musik ini terkurung kekasih sejati sunyi yang karena takdir harus terpisah selamanya. Mereka saling mencintai, sekaligus saling mengingkari, sunyi akan ada saat kotak musik tertutup, begitu kotak musik terbuka, kekasih sunyi melongokkan wajahnya ke segala arah mencari kekasihnya, mengalunkan denting, maka sunyi akan lenyap tanpa bekas diudara. Salamanya sunyi dan kekasihnya takkan bertemu dan bersatu. Itulah yang dikisahkan nenek tua itu sabelum pergi tinggalkan kotak musik ini..”

“Ahh, kisah yang sungguh...”, tenggorokanku seakan tercekat, tak mampu bicara.

“Kisah yang menyedihkan hmm,” wanita itu masih tersenyum manis.
“Dan begitu juga takdir manusia pemiliknya. Aku yang miliki kotak musik ini takkan pernah bisa miliki sunyi, hanya ada riuh dan gaduh, kadang merdu, kadang juga parau, tapi tak pernah sunyi. Kukenali kau miliki sunyi saat kau tertarik pada denting kotak musikku. Begitulah nenek itu dulu miliki semua ramai kehidupan, ditinggalkannya anak perempuan satusatunya bersama sunyi. Hingga dia terlalu renta dan tak lagi mampu nikmati semua suarasuara ceria dunia, maka dijualnya satusatunya miliknya, kotak musik ini. Saat anak perempuan yang telah ditinggalkannya tau tentang itu, maka dicarinya benda kesayangan ibunya, gadis itu tak ingin ibunya mati merana tanpa kotak musik kesayangan ini dalam dekapnya. Namun saat kutawarkan untuk menukar kotak musik ini dengan kesunyian miliknya, gadis itu tak sanggup. Ternyata cintanya pada sunyi lebih besar dari cintanya pada ibunya..”

“Ahh, kisahmu sungguh…bagaimana bisa kau punya cerita macam itu hanya untuk menjual sebuah kotak musik.. apa kau tak bohong dan mengada ada..bagaimana mungkin..”, aku mulai merasa tak nyaman dan ingin segera pergi, rinduku pada sunyi terasa kian perih.

“Kenapa kau tak percaya pada mata, telinga, dan rasamu, mereka telah katakan padamu, siapa aku.. tentu aku tau pasti kisah itu, karena akulah yang menjadikannya begitu. Akulah yang pisahkan kekasih sejati sunyi, kukurung dia dalam kotak musik ini, lalu kupilih manusiamanusia berhati peka untuk menjalankan kisah tragis kehidupan. Dimana pemilik sunyi akan selalu rindu mencari lagu merdu yang tersembunyi dalam keramaian dentingdenting, pun jika itu kujadikan bunyibunyi indah sesuai selera pemilik sunyi. Dan mereka, pemilik sunyi, akan terpisah dari orangorang tersayang yang terpikat pada kotak musik ini, dan jadikan ini sebagai miliknya yang paling berharga. Begitulah cinta akan menguji mereka yang berkata saling mencinta. Aku akan pisahkan mereka seperti kupisahklan sunyi dan bunyi..”

“Kenapa..kenapa..siapakah kau..”, aku jadi sedikit gemetar.

“Tak apa, tak apa, mungkin karena aku suka melakukannya, mungkin karena aku keturunan ular..hahaha…” aku tak sempat melihat tawanya, kutinggalkan wanita itu begiru saja, aku berlari secepat yang kubisa.

Aku berlari kencang meninggalkan tempat itu, yang seakan seketika berubah jadi gelap dan begitu ngeri. Aku berlari terus hingga sampai ke jalan, cahaya matahari membelai rambutku, aku terus berlari, dengan mata setengah pejam, hanya ingin segera pulang. Tak tau arah, aku terus berlari, hingga tibatiba sebuah lengan kuat dan hangat menangkap tubuhku, “ahh..akhirnya kau pulang, aku cemas memikirkanmu, kenapakah kau, sayang..”, kudengar suara sunyi, begitu jernih meresap dalam hati..
Aku tak mampu berkatakata, hanya menangis saja, lama..lega dan bahagia..
dalam pelukan hangat sunyi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar