Sabtu, 11 Desember 2010

halilintar

Sungguh terik lirik matahari, jalanan berasap, membeku tubuhtubuh di perempatan. Sebuah tiang pongah mengisyaratkan waktu. Kapan berhenti, atau melaju lagi. Bendera berkibar tertawa, mengejek tiang, apa yang kau tau ada dibalik tikungan. Seorang perempuan merapatkan kerudung, takut rambutnya akan terbang mengikuti bujuk rayu angin. Sebuah peluit tak sabar menanti sentuh bibir pemilik dada dimana dia bersandar. Semua seolah hilang sadar. Kemana perginya kupukupu yang dulu kutemui berkitar diantara kepalakepala tanpa rambut itu. Mengapa sebuah benda mesti bertengger menyembunyikan wajahku dari belai udara. Pengap. Taukah kau apa arti kehilangan ?
Kupukupu pasti telah pulang, berbelok ke sebuah gang buntu, bumi iba hati meruntuhkan tembok pembatas, maka jalan taman terbentang. Lempang. Seekor kuda lari tinggalkan kereta, berderap mengejar bayang sayap kupukupu, sampai juga ke taman. Sayang sekali, disana ada seorang lelaki yang marah, mengutuk kuda jadi sebuah figur kelabu di samping tugu. Anakanak mencoba menunggang punggung kuda, ribut juga lucu, tibatiba lelaki marah itu tertawa. Kemarilah, itu cuma patung, marilah kita pulang, senja menunggu di gerbang kota. Mendung meneduh batubatu, kudengar suaramu menggelegar, tak ada yang hilang, aku hanya jadi hujan dipuncak siang…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar