Tomat melonjaklonjak dalam tabung alat pembuat jus. Tanganku menatap puas dari balik kaca. Debu menempel di celah kulit dan kuku, kusam seperti rambut anak jalanan. Tomat berseru berisik, bersaing dengan kumparan tajam, tenaga listrik dan letupanletupan es batu. Cuma sembilan menit, kemudian hening.
Serupa doa yang siasia, seperti kecoa, berkeliaran di lantai, seperti tanpa tujuan. Tak peduli pagi atau malam, tomat sudah lumat, es batu tak lagi beku. Mengejek waktu yang menua di dinding dapurku, kehilangan aroma lada dan pala. Aku masih bingung mau segelas jus atau semangkuk sup. Tak sadar waktu sudah jauh meninggalkanku bersama tubuh tomat, mencair dalam gelas. Kental dan merah. Gelas kembali terasa hampa. Inikah rasanya jatuh cinta : jatuh cinta pada tiada ?
Kepada tomat yang bahagia, aku terpaksa bertanya, bolehkah manusia memilih cara terbaik untuk mati?
Tomat tersenyum manis, mengulum mesra maut di bibirku*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar