Kamis, 23 Desember 2010

seindah bintangbintang

Malam ini, sama seperti malammalam yang lalu, ada seseorang yang datang mengunjungiku. Aku tak ingat apakah dia pernah mengetuk pintu, dan kupersilahkan dia masuk ke ruang tamu, setelah beberapa saat kami mengobrol, apakah aku mengajaknya masuk ke dapur untuk membuat dua cangkir kopi.  Dua cangkir yang besarbesar, yang kopinya kirakira cukup banyak, bisa dinikmati sampai tengah malam, meski kopi kurang nikmat diminum ketika sudah dingin, tapi obrolan kita seakanakan membuat semuanya menyenangkan. Entah bagaimana akhirnya kami sudah berada dalam kamar tidurku.

Seperti laiknya sahabat dekat yang lama tak berjumpa, aku dan dia tak henti berbicara tentang apa saja. Sambil sekalisekali menyeruput kopi, pastinya juga diselingi hisapan dalam sigaret yang terselip di jari tangan masingmasing.  Begitulah selalu malam berlalu, sejak aku mengenalnya di sebuah perjalanan pulang. Perjalanan yang sangat aneh, persis dia juga yang kutemui.  Sangat aneh, sampaisampai aku bisa lupa, apa pernah kutanyakan namanya, atau rumahnya, atau tujuannya. Seingatku aku tak pernah mengatakan basabasi sewajarnya yang mestinya dibicarakan oleh sepasang kenalan baru. Kami tak butuh semua itu, yang terpenting aku percaya padanya, dan dia percaya padaku.

Tentang hal itu, aku ingat dengan pasti, saat kutawarkan untuk singgah ke rumah, dia menjawab dengan tanya, bukan hanya bibirnya yang melontarkan tanya itu, matanya juga;”Apa kau percaya padaku?”

“Kenapa kau tanyakan itu, kau belum menjawab tanyaku ?”

“Semua yang kita bicarakan akan menjawab semua yang kautanyakan, jika kau sudah menjawab, apa kau percaya padaku.”

Sebenarnya aku sedikit ragu, bukan karena tak percaya padanya, sorot matanya begitu jernih dan teduh. Aku ragu, mengingat akibat yang akan kudapat dari jawabanku. Menyampaikan sebuah kepercayaan, bukanlah hal yang sederhana. Aku tahu itu dengan pasti, sekian tahun aku hidup dalam ruparupa dilema, hanya garagara dengan berani dan sok gagah aku berkata bahwa aku mempercayai seseorang atau sesuatu. Mungkinkah dia mengerti dan memahami apa yang ada dalam benakku sehingga pertanyaan itu yang dilontarkannya padaku. Saat itu hampir terkikis rasa nyaman yang sedari tadi kurasakan, sejak bertemu dan duduk di sampingnya dalam sebuah perjalanan yang sepertinya hilang arah dan tujuan.

“Apakah kau percaya padaku ?”

“Ya.” Katakata itu meluncur begitu saja, dengan tegas dan tepat, mungkin aku butuh mengatakan itu segera, untuk mengusir rasa galau. Aku sangat menikmati saatsaat perkenalan kami.

Senja itu aku dan dia melangkah bersama, menuju rumahku, yang secara ajaib ada di ujung jalan, di mana bis berhenti dan menurunkan kami. Senja itu jadi sangat indah, beberapa biscuit, beberapa gelas teh dan kopi jadi kawan yang membuat kami lebih gembira. Bergantian kami menyalakan sigaret di bibir kami. Segalanya begitu sederhana, mengalir seperti air di selokan, merdu gemericik, seolah sampah dan bau tak sedap bukan masalah.

“Ya, air sungguh beruntung, tak punya mata dan hidung.” Aku tertawa waktu kaukatakan itu.

“Kau punya mata dan hidung yang indah. Lebih daripada air.” Entah kenapa harus kukatakan itu, sekarang ganti kau yang ketawa.

“Kau pintar bicara, katakatamu  tak habishabis, bikin aku senang bisa singgah di sini.” Aku memandangmu dan bertanya lagi, kali ini dalam hati saja;”Apakah kita sedang memulai sebuah basabasi, saling memuji, atau lebih parah lagi saling merayu?”. Kau tak menjawab yang ini, tentu saja karena cuma dalam hati saja kutanyakan itu.

Waktu berlalu, dan seperti yang biasa terjadi padaku, seringkali kehilangan kepingkeping peristiwa. Dalam hal lain, kadang kepingkeping peristiwa lain datang begitu saja di hadapanku, tanpa kupahami. Itulah yang terjadi sejak aku berjumpa dan mengenalnya, seperti di senja pertama dia singgah, aku tak ingat dia pernah pergi meninggalkanku malam itu. Aku hanya terbangun di pagi hari dengan tubuh bugar dan hati berseri, segera teringat bahwa aku telah bertemu dan mengenalnya, betapa baiknya aku mengingat itu, betapa hangat cahaya matahari di balik jendela.

Hari itu berjalan lancar, aku belajar dan bekerja tentang macammacam hal remeh, terasa menyenangkan. Rasanya tubuhku ringan dan hatiku riang. Seakan aku tahu ada dia yang akan datang senja nanti, untuk membuat hari ini bisa jadi lebih menyenangkan lagi. Angin bertiup sejuk sepanjang waktu, bahkan di siang paling terik. Dan ketika senja tiba, menjelang malam, dia benarbenar datang, membawa cerita yang sama menarik seperti kemarin, dan malam itu, aku kembali tertidur pulas dan lelap.

“Apa kau percaya padaku ?”. Seingatku seringkali dia menyisipkan tanya itu di sela perbincangan kita. Di saatsaat seperti  itu, aku tahu, aku harus selalu menjawab, ya. Lebih kepada diriku sendiri. Entah bagaimana ini terjadi, tapi setiap aku mulai resah, dia mengerti  bahwa itulah waktu yang tepat untuk menanyakan pertanyaan yang sama, yang dulu pernah mengembalikan rasa nyaman yang nyaris lenyap di pertemuan pertama kami. Dia tentu tahu pasti bahwa aku butuh dia bertanya lagi, agar bisa kukatakan ; ya, sebagai jawabnya. Di waktuwaktu tertentu, aku sungguh butuhkan pertanyaannya dan jawabanku, demi sebuah jeda kediaman yang hadir sesaat setelahnya. Diam yang tak menggelisahkan bagi kami, bagi teman, sahabat, atau kekasih, atau apalah sebutan yang pantas untuk dua orang yang saling membutuhkan, saling percaya, yang merasa nyaman setiap kali kami bersama, meskipun dalam keheningan.

Malam tak pernah kelam, dia selalu datang ketika kubutuh seorang teman. Datang dengan sederhana, seperti senyum tulusnya, mata jernihmya. Aku dan dia berbincang, juga diam, berdampingan.  Menatap angkasa, satu lagi yang menakjubkan padanya adalah, dia sanggup menghitung jumlah bintangbintang dengan tepat.  Pada mulanya iseng aku berkata, “Andai ada yang tahu berapa jumlah bintang di langit malam ini.” Sama sekali tak kusangka dia segera menukas,”Aku tahu, ada 1806 bintang di langit malam ini.”

“Haa..?!”

“Kubilang ada 1806 bintang di langit malam ini, kenapa ?”

“Kau sungguhsungguh menghitungnya ?”

“Aku tak menghitungnya, tapi itulah jumlah bintang malam ini, kalau kau sungguh ingin tahu.”

“Aku…bagaimana kau bisa tahu, apa kau asal bicara, atau sungguhsungguh menghitungnya ?”

“Sudah kukatakan, aku tak menghitungnya, tapi memang itu jumlahnya.”

“Sungguh ? Bagaimana kau tahu, kalau tak menghitungnya.”

“Hitunglah sendiri kalau tak percaya.”

Aku tertawa,”Ahh…kau bisa saja, tak mungkin aku bisa menghitung jumlah bintang di langit malam. Kurasa kaupun tak bisa.”

“Hmm…kau tak percaya padaku ?” Matanya lagilagi ikut bertanya. “Apa kau percaya padaku ?”

“Ya..” Katakata itu selalu meluncur tanpa ragu dari bibirku. Dan entah kenapa aku sungguhsungguh percaya padanya.  Malam inipun, seperti ribuan malammalam yang telah kita lalui bersama. Dia datang dengan mata teduh dan senyum tulus, lalu kami akan berbincang sampai lupa waktu. Jika langit cerah dan bintangbintang muncul dengan kerlipnya, mungkin akan kutanyakan lagi padanya, berapa bintang yang terbit malam ini. Dan aku akan selalu percaya berapapun angka yang akan diberikannya sebagai jawaban. Mungkin aku tak punya pilihan, karena mustahil bagiku menghitung bintang. Tapi, aku dan dia tahu pasti, bahwa aku akan berkata, ya, saat dia bertanya, apa aku percaya padanya.

Ya. Karena mempercayainya terasa begitu indah. Seindah bintangbintang di langit malam, yang dia tahu pasti berapa jumlahnya*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar