Apa yang harus kutuliskan setelah aku membacamu. Aku tak bertanya, tak akan kulepaskan tanya jika kusangka tak akan bisa kutangkap jawab. Ini masih tentang semua yang kau isyaratkan lewat mimpiku, kau bisikkan dalam jagaku. Tentang semua yang mungkin dituduh siasia. Tak berujung, bermula dari awal yang kabut, singgah pada jedajeda sunyi di antara detak jantung.
Sebuah kematian yang membangkitkan harapan, atau kelahiran yang menidurkan resah. Kucoba menata kerikil jadi benteng kokoh. Kugenggam angan di loronglorong kota. Tentang tangis dan tawa bocahbocah, menampar wajah lelaki tua manyun dibuai ayunan sebuah kursi yang tak pernah letih. Tentang barisan semut di dinding yang tak pernah mempertanyakan takdir. Merayap di atas goresan krayon berwajah lucu, mirip kau ketika menggelangkan kepala membaca penatku. Aku cuma sedikit sesat, kataku, mencari alasan untuk segenap umpatan yang kulontarkan tepat di kediamanmu yang tabah. Sebelum berpaling, masih mungkin kulihat kau tersenyum, mesra dan redup.
Bolehkah aku bersimpuh, bersandar di lututmu saja, menyodorkan padamu selembar kertas kosong, supaya bisa kautuliskan lagi segala yang tak bisa kumakna ? Mungkin selembar kertas tak cukup untuk menuliskan apa yang didengar lututmu dari keningku. Tapi ruang dan waktu selalu sabar menunggu. Menunggu aku yang mengeja patahpatah semua katakatamu, tentu aku jadi kekanakan tiap kali kauijinkan bersimpuh, menyandarkan tubuh dan kepalaku padamu. Kau tahu kenapa. Pasti karena.
Aku bahagia, meski tak pernah bisa menuliskan apaapa, buat kau yang selalu kusangka telah kubaca sempurna. Kebodohan itu indah, kenaifan itu layak dirawat baikbaik. Seperti petir dan badai yang egois, menyambar rerumputan di bukit, menggulung ombak besarbesar di laut. Susah kupercaya : bukan keangkuhan yang ingin kau ingin kubaca di sana. Hanya sebuah wajah ramah, senantiasa berkata, aku cinta.
Aku juga. Bukan cinta, mungkin hanya karena tak bisa berpaling dari matamu yang mungkin juling. Kalau kau menggenggam hatiku, akan terdengar mesra dan merdu semua hujatku, maukah kau buktikan semua yang pernah kau yakinkan. Aku sangat yakin, bahwa kau akan mengelak. Mungkin kau hanya ingin tahu aku tak sungguhsungguh pada semua keraguanku. Tentang ledakanledakan di tempattempat kumuh, tentang foto dan gambargambar hangus, tentang puingpuing dinding sekolah, tentang debudebu yang menderas di daun kentang. Kau menantangku. Kaupikir aku akan menyerah dan berkata bahwa semua siasia.
Pasti, semua siasia, kakiku sudah beku, terbunuh wangi lututmu, siasia kucoba berdiri, meninggalkanmu, mencari bukti, bahwa aku tak peduli. Hanya jantung berdenyut lemah dan nadinadi yang membiru, dalam diam aku tak sanggup tak bertanya, apa yang harus kutuliskan setelah aku membacamu. Apa? Apa? Telah kusangkal kalimat pertamaku, tiga kali, persis nubuat seorang nabi.
Seharusnya kau tenggelamkan aku saja, dalam kesunyian selembar kertas putih.
Sebuah kematian yang membangkitkan harapan, atau kelahiran yang menidurkan resah. Kucoba menata kerikil jadi benteng kokoh. Kugenggam angan di loronglorong kota. Tentang tangis dan tawa bocahbocah, menampar wajah lelaki tua manyun dibuai ayunan sebuah kursi yang tak pernah letih. Tentang barisan semut di dinding yang tak pernah mempertanyakan takdir. Merayap di atas goresan krayon berwajah lucu, mirip kau ketika menggelangkan kepala membaca penatku. Aku cuma sedikit sesat, kataku, mencari alasan untuk segenap umpatan yang kulontarkan tepat di kediamanmu yang tabah. Sebelum berpaling, masih mungkin kulihat kau tersenyum, mesra dan redup.
Bolehkah aku bersimpuh, bersandar di lututmu saja, menyodorkan padamu selembar kertas kosong, supaya bisa kautuliskan lagi segala yang tak bisa kumakna ? Mungkin selembar kertas tak cukup untuk menuliskan apa yang didengar lututmu dari keningku. Tapi ruang dan waktu selalu sabar menunggu. Menunggu aku yang mengeja patahpatah semua katakatamu, tentu aku jadi kekanakan tiap kali kauijinkan bersimpuh, menyandarkan tubuh dan kepalaku padamu. Kau tahu kenapa. Pasti karena.
Aku bahagia, meski tak pernah bisa menuliskan apaapa, buat kau yang selalu kusangka telah kubaca sempurna. Kebodohan itu indah, kenaifan itu layak dirawat baikbaik. Seperti petir dan badai yang egois, menyambar rerumputan di bukit, menggulung ombak besarbesar di laut. Susah kupercaya : bukan keangkuhan yang ingin kau ingin kubaca di sana. Hanya sebuah wajah ramah, senantiasa berkata, aku cinta.
Aku juga. Bukan cinta, mungkin hanya karena tak bisa berpaling dari matamu yang mungkin juling. Kalau kau menggenggam hatiku, akan terdengar mesra dan merdu semua hujatku, maukah kau buktikan semua yang pernah kau yakinkan. Aku sangat yakin, bahwa kau akan mengelak. Mungkin kau hanya ingin tahu aku tak sungguhsungguh pada semua keraguanku. Tentang ledakanledakan di tempattempat kumuh, tentang foto dan gambargambar hangus, tentang puingpuing dinding sekolah, tentang debudebu yang menderas di daun kentang. Kau menantangku. Kaupikir aku akan menyerah dan berkata bahwa semua siasia.
Pasti, semua siasia, kakiku sudah beku, terbunuh wangi lututmu, siasia kucoba berdiri, meninggalkanmu, mencari bukti, bahwa aku tak peduli. Hanya jantung berdenyut lemah dan nadinadi yang membiru, dalam diam aku tak sanggup tak bertanya, apa yang harus kutuliskan setelah aku membacamu. Apa? Apa? Telah kusangkal kalimat pertamaku, tiga kali, persis nubuat seorang nabi.
Seharusnya kau tenggelamkan aku saja, dalam kesunyian selembar kertas putih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar