Aku membacamu, aku membacamu dalam mulut cacing dalam paruh bebek. Tak tahu jalan kembali kepada tanah. Menunggu kau menelanku dalam usus, mempertemukan kerikil, mencerna perutku yang penuh caci. Betapa kau mungkin muak pada semua yang kucatat pada jejakku di atas lumpur, sebelum paruh bebek membebaskan tubuhku dari kemarahan cuaca.
Perutku sampah, membuncah tanah merah, meleleh darah, lambungmu ungu, juga lampu. Kita bisa bertemu setelah batangbatang jerami di bakar petani, saling menghibur, kalau aku cukup berani mencintai luka. Luka yang mengambang pada kacakaca jendela, luka yang memandangku iba dari kejauhan, luka yang mengharap usapan lembut maut pada perut cacing dalam paruh bebek*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar