Siapa bisa menjawab tanya sebuah lubang telinga. Lubang telinga yang digali katakata dengan cangkul buta. Tak ada mata, tak ada tangan, tak ada jiwa. Cuma sebatang kayu, selembar baja. Bergerak tanpa henti memecah udara. Aku mencoba membunuh semua dengung sabdamu, siasia sempurna.
Serupa laut kehilangan dermaga, merayu pantai dengan ombak, meluap amarah dengan badai. Tak lelah mengayun tanganku. Tanamlah. Tanamlah sejuta bintangbintang ke dalam bentang mata, nyalang menghadang malam. Ingin hilang, dalam congkak namamu.
Dan aku, terus mencarimu di dasar samudra yang benua, jiwajiwa dalam tubuhku yang cangkul di ladangmu. Tak mewujud. Terlanjur terkubur dagingku dalam genangan anggur, tak tergiur pada sejuk air suci di samping pintumu. Dan aku, selalu mengingatmu dalam setiap kematiankematian kecil di pintupintu rumahmu yang terpencil.
Menggali kubur bagi katakata yang khianati kau ; terbenam lubang telinga buta. Menulis serupa meracuni hati yang telah lama mati*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar