Di sudut meja, asbak itu sedang menggerutu pada abu kupukupu yang berguguran dari bibirku. Kubilang, aku tak berkawan, selain sebatang coklat di sela gigi. Manisnya jadi ngilu, pelahanlahan menyuapkan isi lemari ke dalam bukubuku. Aku bukan seseorang yang pintar berdalih, tapi sunyi itu sungguhsungguh telah melukis wajahmu.
Pada plafon, meja, diktat dan pemantik, bersamasama, menabuh rindu aroma sigaret dari serpihan daun tembakau di tempat jauh. Juga serpihan bunga mahoni di lengan bajuku, sibuk mengingat jalanjalan yang tersesat. Coklat di sela gigiku memang bangsat. Membuatku lidahku sarat kenangan. Jariku gemetar, membakar kertas.
Malaikat yang sedari tadi meniup seruling, pingsan saat membaca pesanku, untukmu,"Kau satusatunya setan yang kutunggu, pulanglah ke dadaku; nerakamu yang paling teduh !" Serulingnya patah, berserakan dekat wajahmu, nadanadanya menerbangkan bangkai kupukupu*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar