Sabtu, 11 Desember 2010

sebutir embun di daun jagung

“Aku membencimu..!”, begitu kau berteriak pada angin yang bertiup dinihari ini. Begitu lantang seakan kau ingin angin, membawa katakatamu dengan jelas hingga menghembus dimataku, perih, menusuk jantungku. Mungkin juga akan membuatku jatuh pingsan atau setidaknya terhuyung seperti pemabuk yang berjalan meliuk disepanjang jalan pulang selewat tengah malam. Kau meracau dan memaki dengan segenap hati dengan katakata yang juga biasa diucapkan dalam gumam tak jelas yang biasa diocehkan pemabukpemabuk itu. Aku bertanya diamdiam apa kau tadi juga sempat meneguk sedikit alkohol atau arak, mungkin juga menelan beberapa butir pil yang dulu selalu kau bilang ingin membuangnya ke dalam lubang toilet.

Tapi tidak, daritadi kuamati kau duduk tenang dalam kamarmu. Tak beranjak kemanapun, tak melewati daun pintu. Jika ada yang bergerak tanpa henti; maka itu adalah imajinasimu yang pada penglihataku bergulung bagai kabut, berwarna api, kuning, jingga, merah, biru, anehnya mengarah ke wajahku, hingga terkadang aku tersedak, sedikit terbatuk, tentu kaupun tak dengar sengalan nafasku yang memburu. Meski kadang seringkali kau kagetkan aku dengan tatapanmu yang tibatiba menusuk mataku.

Pandangan kita bertemu, sepertinya kau tak pernah sungguh sungguh melihatku seperti yang seharusnya. Karenanya hanya sesaat kemudian kau hela nafas dan kembali menunduk ke mejamu, menekuri hurufhuruf pada keyboard laptopmu. Seakanakan dari situ ingin kau pungut semua yang tercecer. Aku mulai tak tahan pada rasa yang mencekik dihatiku. Malam semakin layu, waktu membeku pada bunyi detak jam dinding. Aku melihat jemarimu bergerak gerak lincah menyentuh tomboltombol, yang dengan patuh melontarkan hurufhuruf ke layar monitormu.

Adakah kau rasakan aku mendekat, nyaris menempel di punggungmu. Aku hanya ingin membaca apa yang kautulis malam ini. Adakah kau masih suka tuliskan semua tentang kita. Adakah ingatanmu masih terpaku pada semua kesukaanku yang sungguh kaupuja sepenuh jiwa? Sungguhkah kau bilang aku akan selalu ada, walau tak nampak. Kau menghela nafas lagi, tak terlalu panjang, namun sama asam terasa. Tak terbaca apa yang kau tuliskan, entah kenapa, aku merasa kau sengaja menulis dengan buruburu dan secepatnya ingin kau simpan semua, agar tak terlihat oleh siapapun.

Aku teringat suatu ketika dulu kau pernah berkata paling tak suka jika kubaca tulisanmu sebelum selesai, dan saat kutanyakan kenapa, kau sedikit bingung menjawab, “entah, mungkin karena aku takut kau tak suka lalu mengatakannya.” Padahal kau tau pasti aku tak pernah sekalipun tak suka tulisanmu, yang manapun itu, aku selalu jatuh hati pada katakata yang kau susun. Semua orang, termasuk aku tentu paham kau sangat mahir merangkai kata.
“Ya, dan akan lebih buruk, jika kau memujimuji tulisanku..”, kau berkata dengan suara datar, tak acuh dan angkuh.
Dan malam ini kau begitu lagi, cepatcepat menutup laptop dan melangkah menjauhi meja kerjamu, sepertinya kau tau ada aku yang akan mengintip tulisanmu.

Ada yang sedikit kusesali sekaligus kusyukuri, entah rasa mana yang lebih kerap menempati benak, silih berganti. Tentang aku, kau, ya kita. Kenapa kau tak tau aku ada disini, begitu dekat hingga bisa bersentuhan kapan saja, sesering yang bisa diharapkan. Sedih sekali kau memandang ke arah yang sangat jauh untuk menumpahkan rindu, padahal aku selalu disisimu, begini dekat. Namun, kadang terpikir olehku baguslah kau tak tau aku ada disini, hingga kau bisa menunjukkan resah tak terkira yang mestinya terbit dari rasa rindumu padaku yang kausangka begitu jauh. Biar saja, biar semua berjalan apa adanya.

Seperti dulu kau kerap tak tertidur sepanjang malam, aku masih prihatin, tapi kini kunikmati jagamu sepenuh hati. Mata letihmu, sudut murung bibirmu, kening berkerut, rambut yang teracak tangan. Setiap gerakanmu selalu indah, ingin sekali kufoto atau kurekam tanpa setaumu, aku yakin akan jadi karya fotografi yang cantik, karena itulah yang terekam kamera, cantik.
“Cantik..?!” kau melotot, “bukan kata yang tepat untuk seorang lelaki, apa kau tak paham tentang itu?”. Ya ya..aku paham, kau seorang penulis, sudah sepantasnya peduli tentang kosakata dan tatabahasa. Cantik bukan hanya untuk perempuan, kita boleh kan katakan bulan cantik, bunga cantik, burung merak atau kepodang cantik, tanpa mengacuhkan kelamin.
“Ya, tapi untuk manusia tak begitu, non..”. ah, sayang kau tak pernah tau, ada sensasi tersendiri saat kausebut ‘non’ untukku, aku tak mengatakannya padamu, karena tak ingin kau berhenti memakai kata itu untukku.

Aku mengenalmu, kau , entah jahil atau sirik, sering seakan tak terlalu suka jika aku menjadi gembira karena sesuatu yang kaukerjakan. Kau lebih suka kalau aku nampak sedih dan sendu, sampai akhirnya kau sendiri yang akan mengambil peran sebagai lelaki lembut yang siap sedia menghiburku dan menyalakan hati redupku. Batapa uniknya kita, dan aku diamdiam bertanya apa semua kekasih seperti kita, melihat dan memahami segala hal dengan cara sedikit berbeda, sedikit berbungabunga.
“Banyak, non..banyak sekali bunganya,” suaramu membuatku terlonjak, sangat terkejut.
Ahh, apa kau dengar semua yang kubisikkan tadi; ahh..entahlah

Gerimis mulai merintik, mungkin bersamaan dengan luruhnya butirbutir embun.
Kini bisa kuingat semua gambar indah yang pernah kita ciptakan dengan nyata bersama hujan.
Aku suka hujan, “Ahh, biasa saja, apa yang istimewa dari curahan air, yang pasti basah,” begitu kau bilang tak acuh seperti biasa. Tak bisakah kau bicara padaku serupa dengan bicara pada gadisgadis dalam tulisanmu, penuh dukungan, peduli, bahkan kasih sayang.. Aku selalu merasa kau tak pernah setuju dan membuatku gembira. Dan kau akan tertawa senang kalau aku mulai cemberut.

Tapi, saat payung itu mengkerut tertiup angin kencang ditengah hujan badai, kita tertawa begitu kencang, bersama. Hingga langit tak suka, mungkin cemburu, lalu menyuruh petir menghardik kuat. Kita tertunduk kaget sesaat, lalu segera tertawa lebih keras lagi.
Dengan tubuh dan baju kuyup, kaupeluk aku, erat, seakan beku jantungku melekat pada gigil didadamu. Berjalan dalam hujan, bersamamu, betapa sejuk.

Kini dalam udara beku yang sama betapa ingin aku menyentuhmu kembali, melekat didadamu, bersenandung seirama detak jantungmu.
Sesaat terasa begitu hening, sebelum kudengar isakmu mencekik leherku, sakit, sakit !
Dan aku tersadar kau mulai memukul dinding kamar dengan kepalan tanganmu, tanpa henti, hingga terluka, darah meninggalkan rona merah didinding putih.
Aku menangis pilu, sungguh menyesal tak kau dengar sedu sedanku. Aku terus menangis dan menangis, sendiri…didekatmu, namun terpisah dimensi ruang dan waktu.
Andai ada dinding yang harus kurobohkan, akan kupertaruhkan nyawaku untuk menyentuhmu, sungguh sayang tak ada dinding, hanya takdir, pengecut dan menyesakkan macam asap hutanhutan terbakar, tak terhalau, tak tertahan apapun, menyergap jantung.

“Aku membencimu..aku membencimu..aku membencimu…!” kuteriakkan sekuat paruparuku pada sosok cahaya yang berdiri tenang dihadapanku, merentangkan tangan sambil berkata,”ayolah sayang, sudah waktunya pulang..”

Aku tak pernah mau tau, bahwa tak ada lagi jantung, paruparu, wajah, dan tubuh padaku, semua telah hancur luluh dalam dekapan sunyi, jauh diperut bumi.
Kulihat kau berjalan keluar menerobos hujan dan basah. Air hujan menetes merah dari telapak tanganmu. Kau terus berjalan kearah entah, tanpa lelah, aku menadah tiap tetes air dari tubuh dan telapak tanganmu.

Hingga malam usai, aku terjaga, terkejut dan terpana, ternyata kini aku adalah bunga betina pada setangkai tanaman jagung disebuah ladang, dan kulihat kau berayunayun tak jauh dariku. Kau; bunga jantan paling cantik diseluruh ladang.
Kita bertukar senyum, sejenak kemudian tertawa keras, bersama, alangkah bahagia, tak lama lagi musim dan angin akan menyatukan kita; pasti.

Sebuah suara dari cahaya berseru keras, “kau lebih memilih kekasihmu dibanding surga, maka sekarang nikmatilah takdirmu, bersatu dengan kekasihmu, kelak anakanak kalian, bulirbulir jagung akan berakhir diperut manusia, atau tembolok unggas, dicerna, menjadi tinja, hanyut disungai menuju samudra, mungkin jadi hujan, kembali meresap dalam tanah, mungkin jadi belatung atau cacing. Selamat menempuh jalan cinta. Jalan samsara…”

Betapa cerahnya langit. Kulihat kau memandangku dengan mata jenaka, tibatiba kita kembali tertawa, bersama, sangat riang dan bebas. Tak terkira bahagia bisa mengulang kembali saat terindah bersamamu. Bagai dulu, tertawa sekeras dan selepas badai dibawah sambaran petir.
Sebuah daun didekatmu begitu berkilau oleh setitik embun yang tertinggal, tak sempat direbut cahaya matahari. Sebutir kilau bening, jadi milik kita sepanjang hari…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar