Sabtu, 11 Desember 2010

remains

Aku mengenal lelaki itu disebuah malam yang terselip dicelah cahaya senter. Dalam tenda di lereng gunung, pagi beku berkabut, tapi hangat lengan lelaki itu paling dekat. Gemuruh debar didada, memacu aliran darahku mengalahkan waktu. Seakan bukan sebuah dunia yang berbaring diatas matras berselimut tebal, diantara, handuk, bekal dan botolbotol air mineral, lelaki itu merampas seluruh nafas dalam tidurku, menukarnya dengan sebuah skenario pagi yang penuh mimpi dan potongan udara pada batangbatang coklat.
Kini, namanya terpahat pada sebuah tebing yang belum sempat kudaki. Maka aku bersahabat dengan seekor rajawali agar dapat kutitipkan sekerat nafas dalam sebatang coklat untuk lelaki itu; yang selalu kukenal lagi pada malammalam edelweis menjelma bintang dilangit kamar…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar