Sabtu, 11 Desember 2010

perjalanan pulang

Siang ini mimpi menghampiriku, bersama mendung dan debudebu dikaca jendala bus. Dia seperti sedang membawa ransel penuh lukisan, berlarilari bersama tiangtiang listrik dan pohonpohon ditepi jalan. Mimpi menyapaku, suaranya lirih, menusuk telinga diantara deru mesin dan syair sebuah lagu dari headsetku.

Ada bayi menangis keras dalam sebuah selendang, mungkin dia kehilangan mimpi, mimpi yang kini duduk disisiku, menyodorkan pundaknya untuk kurebahi. Mimpi mengelus lembut rambutku. Naga dan burung cendrawasih terbang dari selendang ; mereka menari, menari dan menari. Bijibiji mutiara berjatuhan dari tarian mereka, menumbuhkan bulan dan sulursulur bunga. Kursikursi jadi empuk dan dingin, serupa agaragar. Bayi berhenti menangis, tertawa memandang ekor cendrawasih di mata ibunya.

Mimpi hampir tertidur sambil memelukku, nafasnya merdu, seirama lagu yang sering kau nyanyikan untukku. Mendung dan pohonpohon masih berlarian diluar jendela. Tiang listrik sudah habis. Hening mengusap keningku, aku masuk dalam sebuah lukisan malam ; kau berdiri menanti dibawah gelap paling gemerlap…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar