Hari ini tanggal 1 Mei. Kalender di dinding kamarku tak mengerti kenapa hari ini tanggal 1 Mei, tanggal 1 Mei pasti juga tak mengerti, kenapa mesti menghuni hari ini. Tapi ada yang sedang berpesta di jalan. Merayakan sebuah kebebasan tanpa alasan; tanpa dasi, tuxedo, kauskaki dan sepatu.
Sudut sudut jalan penuh wajah tersenyum dalam poster dan spanduk. Orangorang berkerumun serupa semut dibawahnya. Mereka senang : senyum dan senandung pada bibir itu begitu manis, lagipula gratis. Padahal harga gula belakangan sangat mahal, pun tiap butirnya tak lagi manis dan bening.
Lelakilelaki bersiul di kantor, jalan tol dan warung kopi. Siulannya harum, beraroma tembakau dan rempahrempah. Sebuah penggaris sibuk mengukur jarak antara rasa pengap didadaku dan pintupintu kamar para pekerja urban, antara angkaangka di komputer supermarket dan ruang praktek dokter. Rumus dan dalil ekonomi asyik melukis alis gadisgadis pendatang.
Lampulampu tidur nyenyak siang ini, bersiap menyambut malam. Suara mesin pabrik berdengung bagai serangga, bersorak menyambut hujan. Seorang gadis sedang meluruskan rambut, aku melihat sore hari jadi licin dan berkilat dikepalanya, persis jalanjalan kota sehabis diguyur hujan. Hujan yang tak pernah paham tentang umur, upah dan keselamatan kerja.
Malam ini purnama mungkin masih menyisakan mimpi : tentang tidur lelap di kamar kontrakan. Biar saja; besok semua akan kembali biasa, lupa bahwa hari ini tanggal 1 Mei, lupa bahwa hari ini nyaris luar biasa, lupa bahwa pesta meriah hari ini pernah ada.
Mesin pabrik masih berdengung berisik, meski tak ada hujan, tak ada serangga…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar