Jumat, 10 Desember 2010

paradoks

Barusan aku jalanjalan, menyusuri lorong dan goronggorong kota keramat, konon katanya takkan pernah ada pejalan yang temukan apaapa disana selain daripada gertak gigi dan suara desis mengiris nadi. Mungkin kalian takkan percaya, kenapa aku begitu berani, keangkuhanku menyebut diriku hebat, kerancuanku menyangka diriku sesat, kebajikanku tersenyum maklum pada bodoh dan naifku yang katanya tanpa sengaja menguji nyali. Tak usahlah peduli pada semua ‘kata hati’..sejak awal, mestinya kupahami bahwa segala kisah sudah lebih dulu ada dibanding usia.
Tak layak menggugat resah tunduk pada pasrah.
Tak patut menuntut takut bertekuk lutut pada maut.
Betapa pengecut jika aku sudah pulang dan tidur pada dinihari, sebelum kutemui pemilik taring gemeretak serta desis lidah bercabang penguasa segala lorong gelap kota terlarang. Harus kutanyakan sesuatu yang maha penting demi sebuah sajak untuk sang maha puisi;
“siapa yang suruh lidah bercabangmu, membujuk eva nenek moyangku berbagi buah pengetahuan dengan adam kakek buyutnya?”
Kau harus menjawabnya agar bisa dia maklumi kelancanganku menghujat para ulama, pun, kegemaranku menghina para penyair, ketika dia menyalahkan aku atas semua derita yang terekam diretak malam, ketika laronlaron berguguran disengat cahaya lampu..
Tangisan kelahiran, juga ratap kematian; hanyalah sedikit kebodohan yang mengikat bibirku pada denyut dilehernya.. Jadilah, sebuah dusta paling nestapa bagi yang bicara cinta disegala sudut kota, melupakan keranda dan liang kubur, sejenak nikmati lekuk lengannya melingkari pinggang, desah panjang, bisa jadi akan lahir lagi sebuah sajak.
Tibatiba aku teringat mesti mampir ke rumah seorang pengacara handal, guna membuat selembar surat wasiat, cuma sebuah pesan sederhana; serahkan tubuhku pada api, wariskan abuku padanya, agar dipakainya untuk menggosok buram pada lampu ajaibnya, biar berkilau tiap malamnya !
Kuharap cukup pantas sebagai pengganti gagalku memaksa iblis bicara; mengakui betapa kejam tuhan mempermainkan cintaku padanya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar