Jumat, 10 Desember 2010

di balik pintu...

Selalu kucoba menangkap udara malam, untuk kumiliki sendiri. Aku mau kau rasakan betapa hampa malam tanpa udara. Agar mereka mengerti cara indah membaca deru nafas pohon dan aroma harum musim hujan. Sebab dipagi hari bungabunga kerap terlelap dengan hati resah, mereka berpikir manusia menyalahgunakan cantik dan wanginya untuk merayakan pengap dusta pada warungwarung kopi, warung internet, televisi, dan tentu juga teras rumah seseorang yang kehilangan kesempatan menghitung bintang, lupa cara memandang bulan. Lalu ada yang singgah menanyakan arah. Sepertinya masih sama seperti kemarin. Nyanyi kodok, bunyi jangkrik, wangi bunga sedap malam. Aku lanjutkan merajut sarungtanganmu dari benang woll hadiah seekor domba berhati mulia. Kudengar langkah kaki menginjak kerikil, dari jendela kulihat wajahwajah pasi kelelahan berjalan beriringan. Saat sepasang mata bening memandangku, terasa beku menusuk jantungku. Tibatiba aku merasa bersalah telah serakah merampas malammalam hangat para perantau dan anakanak yatimpiatu yang mencari pintu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar