Malam ini sudah kusiapkan sebilah belati tajam diambang jendela. Waktu berjalan begitu lambat seakanakan ingin mencegah tragedi. Tapi, takkan ada yang mampu merubah niatku, sudah terlalu lama aku menahan diri. Menahan semua luka dan duka yang selalu hadir bersamaan datang malam. Terutama malam saat bulan bulat, terang, nampak begitu sempurna. Membuatku yang lelah semakin pengap oleh rasa iri dan cemburu.
Sungguh tak tahu darimana awalnya rasa kacau dibenakku bermula. Aku hanyalah perempuan. Sangat lazim dan biasa, lebih buruk lagi aku miskin. Miskin dalam arti harfiah, sepanjang hari selalu penat oleh urusan mencari lembarlembar kertas, mereka menyebutnya uang. Lembarlembar lusuh yang buat tuantuan terpandang bermata nyalang. Lembarlembar busuk yang jadikan nonanona mulus berakal bulus. Hahh..lihat betapa sinis aku memandang wajahwajah pahlawan pada tiap lembar kertaskertas itu. Mungkin hanya karena aku bukanlah termasuk dalam golongan tuantuan atau nonanona yang kusebutkan tadi. Aku hanya perempuan, sangat lazim dan biasa, yang mungkin lebih buruk lagi selalu plinplan pada kenyataan.
Aku perempuan lazim dan biasa, sesungguhnya tak sesederhana itu, mungkin. Aku perempuan yang cemburu: pada bulan dan pada pemilik uang. Nah..sekarang bisakah dimengerti oleh logika kenapa aku cemburu, karena aku mencintai kedua hal yang berhubungan dengan kedua hal penyebab rasa cemburuku; lelaki pemuja bulan dan pecinta uang. Dan sekarang baru mulai jelas tertata semua serpihan pacahan bintang yang berputarputar dikeningku, serupa yang terlambang saat pening mendera pada gambargambar karikatur dan film kartun.
Yang pasti sudah sekian lama semua rasa berkecamuk didada dan kepalaku, entah dibagian mana yang lebih kacau. Rasanya sama berat dan sesak. Telah bertahuntahun kujalani peranku, dengan tabah, jika dilihat dari sudut pandang bijak, dengan terpaksa bila dilihat dari kenyataan yang ada. Tabah melewati harihari yang selalu sama muram. Hanya ada jalanjalan kota yang sama kumuh, mesti ditempuh, dengan beragam wajah dan rupa sampah berserakan disemua sudut, resahresah tanpa arah, tanyatanya tanpa jawab, pintapinta tanpa kata yang selalu meresap begitu dalam dimalam hari, menguap dalam doa siasia. Bahkan sempat terlintas dibenak, bahwa tuhan tak ada bedanya dengan tuantuan, cuma tahu memuja bulan dan mencinta uang, tak hiraukan seorang perempuan penggerutu didera cemburu macam aku.
Begitulah harihari dan malam berlalu dalam rindu dendam yang kubenamkan dalam bakbak cucian, bersama baju, celana, dan segala macam kain kotor bernoda. Dilain waktu, saat lapar dan resah seolah nyaris merobek dadaku, aku merasa sedang menanak cinta, sebanyak butirbutir beras berwarna kusam, penuh kerikil hitam pada tiap genggamnya, hingga tak pernah bisa bersih walau berulang kali dicuci, mungkin sengaja kutanak pula, tanpa berani kuakui, diamdiam ada harapku kerikilkerikil hitam akan lumat oleh air mendidih dalam panci, jadi sesedap dan selembut serat daging. Suarasuara lapar anakanak dari seluruh jagad menulikan telingaku. Dan aku mulai kembali merasa geram pada segala yang kupandang, juga yang mengganggu angan.
Dengan segala macam sebab dan alasan yang sungguh enggan untuk kujelaskan, dendam itu tumbuh begitu subur, mengakar dan menyebar, bagai rumput dimusim hujan, tak tertahan penuhi seluruh pelataran hati. Dendam pada sinar bulan yang tanpa sungkan berkaca pada permukaan kolam, danau, sungai, juga laut sepanjang malam. Bulan yang tak tahu diri menggoda angan para lelaki, merayu genit, tak pernah menyerah atau berhenti meski seluruh cinta lelaki telah tercurah bagi puisipuisi purnama.
Uang malah lebih sadis lagi, merebut segenap hasrat dan kehendak lelaki untuk mencinta, menyembah dan mendambanya tanpa henti. Tak pernah sedetikpun ada waktu untuk mengingat seorang perempuan macam diriku. Lelaki terusmenerus curahkan rindu pada uang, dari pagi sampai malam, tak kenal waktu, tak ada kesan bosan barang sejenak. Uang dan lelaki bermesra di mejameja kantor, gudang, pasar, terminal, pelabuhan. Saat malam tiba, kian mesra uang mencumbu lelaki di mejameja judi, warung kopi, bar, tempat bilyar, atau pada pertandingan olah raga di televisi. Lalu mereka akan pulang dengan mulut kecut dan mata mengantuk yang masih sempat membentak sambil melontarkan pandang muak pada perempuan, bahkan umpatan pada rengekan anakanak yang tergeletak tidur dalam buaian dingin, lapar dan sepi. Sekarang mestinya bisa dipahami, kenapa aku: perempuan bisa jadi begitu cemburu dan sakit hati.
Setelah lama menahan diri, malam ini aku telah siap dengan sebilah belati tajam dalam genggaman, sudah bulat tekad menuntas dendam. Ya..malam ini aku akan menikam bulan, hingga tewas. Mungkin jasad bulan bisa kujual dipasar, atau kutawarkan pada para pemuja bulan untuk membelinya. Mungkin akan mahal harganya, mungkin uangnya bisa kupakai membeli semua cinta lelakilelaki pecinta uang. Sempurna rasanya semua rencana. Sedikit kejam tak apa, sudah terlalu lama dan dalam luka membusuk dijantungku.
Malam terasa makin sempurna saat bulan mulai utuh menampilkan sosoknya pada langit. Aku berjalan keluar kamar dengan mata menyala, kilau tajam belati menarinari dibola mataku. Kutatap bulan dengan pandang menantang. Namun bulan tak acuh, tak peduli sedikitpun, sepertinya terlalu sibuk mengerling pada rayuan lelakilelaki pemuja purnama itu. Aku terus berpikir bagaimana harus kubujuk bulan uintuk mendekat, agar bisa kutikam. Tak mungkin memanjat ujung pohonpohon pinang itu, atau mencoba mendaki bukit yang penuh ilalang pada puncaknya, pernah pula kudengar cerita tentang bulan yang menikahi ilalang. Andai tubuhku cukup kuat dan sehat pasti akan kudaki bukit itu, untuk menjebak bulan yang mungkin sedang menikahi ilalang, namun aku tahu, aku sangat lemah dan rapuh, jantungku berdetak lemah, nadiku berdenyut lambat, sementara lambungku begerakgerak melumat makanan yang nyaris nihil dalam rongga perut, ada perih dan rasa asam menyengat dada dan tenggorokan. Dengan kondisi kesehatan serupa itu, sulit kiranya membayangkan diriku mendaki sebuah bukit untuk menangkap bulan.
Aku berjalan lambat menyusuri halaman rumah, keluar kampung, kini aku ada di jalanan, lampulampu seakan berbisikbisik membicarakan diriku, ingin aku menghardik mereka, tapi kuurungkan niatku, aku harus konsentrasi penuh untuk membunuh bulan. Nanti setelah tujuanku tercapai, tentu dengan sendirinya semua lampu akan tertunduk hormat padaku, perempuan pembunuh bulan. Aku tiba dijembatan, jauh dibawahnya, sungai terdengar mengalir tenang, berwarna hitam, gelap, beberapa sosok manusia sepertinya berada dekat situ, entah mungkin singgah atau mengerjakan apa yang mesti dikerjakan berkaitan dengan sungai. Aku tak peduli pada suara apapun, serangga atau manusia. Hanya terus berjalan dengan belati dalam genggaman.
Lelah mulai terasa pada telapak kaki, sesungguhnya banyak yang kujumpai dijalan, banyak yang memandangku dengan pandangan beragam, tak acuh, seperti takut, ada pula yang memandang waspada dan curiga. Tentu saja semua tak mengherankan, karena saat itu sudah lewat tengah malam, sangat tak biasa seorang perempuan biasa macam aku keluyuran pada waktu ini, apalagi dengan wajah lelah, mata menyorot dendam dan kebencian yang nyaris meledak. Aku sudah hampir kalap dan putus asa ketika tibatiba muncul sesosok manusia tepat didepanku. Sesosok lelaki kurus dan lusuh, tak bisa kutebak manusia macam apa yang berdiri dihadapanku tibatiba, juga tak mampu kuperkirakan umur atau apapun yang tersirat pada sosok berkesan kusam yang saat ini tengah menatapku dengan mata membara.
“Apakah itu belati yang kausembunyikan dibalik mantelmu,” suara lelaki itu memecah hening.
“ohh…”, aku tergagap.
“Ohh.!siapakah yang hendak kau tikam dimalam purnama yang indah ini ?” suaranya terdengar sedikit jenaka, kupikir aku akan lebih suka padanya jika tak disebutsebutnya tentang purnama yang indah.
“Aduh, kenapa kau menatapku begitu, pasti bukan aku yang ingin kautikam ? Tak pernah kuingat aku mengenalmu, sampai kau bisa begitu dendam ingin membunuhku. Kau nampak kecil dan rapuh, dan belati itu tak pantas berada ditanganmu. Siapapun musuhmu, kiranya akan mudah bagi mereka untuk mengabaikan seranganmu, salahsalah kau sendiri yang akan tertikam nanti. Dan matamu melotot katakutan, ayolah tenangkan diri sejenak bersamaku, ceritakan tentang kau dan belati itu malam ini, oke..?” lelaki itu berbicara panjang, dan tak tahu mengapa suaranya terdengar merdu. Kalau saja aku tak ingat bahwa dia adalah salah satu dari jenis pemuja bulan, mungkin kami akan bisa bersahabat.
Melihat keraguanku yang bisu, tak kusangka lelaki itu menyentuh lenganku. Sentuhannya sejuk dan halus, meluruhkan semua penat dan tegang, tibatiba aku sadar sedari tadi belati kugenggam terlalu erat, hingga kaku otototot lengan dan telapak tanganku. Dengan lembut diluruskannya lenganku dan dipegangnya telapak tanganku yang kosong dan basah berkeringat. Dan kubiarkan semua terjadi begitu saja. Kami bergandengan tangan. Pelahan dia membawaku melangkah dibawah cahaya lampu yang kini terdengar tertawatawa kecil. Berjalan terus menyusuri sungai, sambil bercakap tiada henti. Aku senang karena tak sekalipun lelaki ini menyebut tentang bulan atau purnama lagi sepanjang percakapan kami.
Lelaki itu bercerita tentang hutan dan bukitbukit hijau yang tak pernah kudaki. Bercerita tentang ribuan bunga dandeline di lembahlembah. Tentang berbagai jenis serangga dan burungburung. Dan yang paling membuatku senang lelaki ini bercerita tentang senja dan fajar, “harihari hanyalah senja dan fajar bagiku, selebihnya adalah hampa, siang dan malam selalu tak paham tentang warna, hanya senja dan fajar yang bisa dilukis indah pada kanvas, atau dindingdinding kapal”.
“Kau seorang pelukis ?”
“Hanya melukis senja dan fajar saja, apakah layak disebut pelukis, tak tahu aku.”
Lalu tibatiba dia menatapku, “dan kau, seorang pembunuh ?”, hening sesaat, sebelum sempat kujawab lelaki itu berkata lagi,”aku dulunya seorang pembunuh juga, sungguh”.
“Janganlah gelisah dan takut, telah lama aku tak lagi membunuh, lagipula aku hanyalah seorang pembunuh waktu..hahaha..”, mau tak mau aku tertawa juga, tak tahan mendengar suara tawanya yang mengundang ceria.
“Aku ingin membunuh bulan”, kataku yang terkejut mendengar suaraku sendiri.
Makin takjub pula aku saat lelaki itu tak terkejut sedikitpun mendengar kalimatku, dengan nada riang dia malah berkata, “ahh, seorang perempuan yang cemburu, malang benar kau ini.”
“Kok tahu aku cemburu?”
“Tak alasan lain yang lebih baik yang bisa dipakai perempuan untuk membunuh sebuah benda bercahaya diangkasa, selain cemburu. Apa kau ingin mendebatku?”
Aku tak bisa menahan tawaku.
“Jadi akan kaulanjutkan rencanamu semula ? Atau kau akan terima tawaranku untuk kubawa ke atas salah satu bukit itu, kau bisa temani aku menanti setiap fajar dan senja. Aku akan melukis semua, taukah kau itu tak pernah sama, sepanjang hidupmu fajar dan senja selalu berbeda dan selalu indah. Pikirkanlah dengan tenang.”
Sungguh, sulit kutahan diriku tak terima ajakan teman baruku yang riang dan ramah ini. Kupandangi mata teduhnya, dan rasanya sudah setengah kubuka mulutku untuk berkata ya, menerima tawarannya yang menyenangkan, ketika tibatiba kudengar dalam ingatanku, semua derita dan rasa sakit yang telah kutanggung garagara keberadaan bulan.
Nuraniku berontak, apa aku akan lupakan semua derita yang mesti ditanggung perempuanperempuan lain dan anakanak diseluruh muka bumi, demi kebahagiaanku sendiri. Teringat semua jerit, ratap dan tangis; yang timbul karena semua lelaki pemuja bulan. Tak sanggup aku meruntuhkan niatku, aku harus menyelesaikan penderitaan perempuan di bumi ini. Cukup aku saja yang terakhir merasakan derita, semoga jangan anakanak atau cucucucu perempuanku kelak.
Aku menatap matanya, mata teduh yang selalu memandang warnawarna fajar dan senja. Tanganku mengepal. Tanpa perlu kata penjelasan dia paham apa yang telah kuputuskan, tersenyum pasrah. Dengan lembut disentuhnya belati dalam genggam tanganku. Suaranya sedikit parau saat dia berkata,”aku tahu dimana kau bisa menangkap bulan, pada muara dekat dermaga, bulan sedang asyik merunduk pada permukaan air, menggoda angan para pemabuk dan pemancing disepanjang pantai, kau bisa temukan bulan mungkin tengah asyik bersolek bersama sayapsayap burung yang menukik mencari mangsa.”
Aku menatap lelaki itu penuh terima kasih, dalam hati terbersit ingin agar dia mengantarku menyelesaikan dendam dan niat membunuh bulan demi nasib perempuan, setelah semua usai aku akan dengan senang hati mengikutinya ke atas bukit.
Seolah membaca hatiku, lelaki itu berucap,”maaf tak bisa aku mengantarmu. Tak bisa melihatmu jadi seorang pembunuh demi apapun. Lagipula aku harus segera mendaki bukit sekarang agar sempat bertemu fajar nanti, jauh sekali perjalanan harus kutempuh. Jika kita berjodoh, kita pasti akan berjumpa lagi, aku akan rindu bertemu kau lagi, semoga lain kali aku bertemu kau tanpa ada belati ditanganmu..”
Dia berjalan kearah hulu sungai tanpa menoleh. Aku berlari ke arah muara, tanpa berhenti. Kubiarkan airmataku mongering dihembus angin.
Kulihat bulan dari ujung dermaga, sedang asyik bersolek dimuara, diantara segala yang terhanyut sungai. Bercanda mesra dengan burungburung malam yang berkoak lapar. Tak kuacuhkan segala yang ada disana, suara tawa, dahak, nadanada sumbang kelakar dan nyanyian para lelaki dan perempuan berwajah bulan dalam pangkuan mereka. Aku berjalan lurus menghunus belatiku tepat ketubuh bulan. Kurasakan kehangatan menjalar disekujur tubuhku sebelum segalanya jadi begitu gelap dan hening.
Bulan telah padam; mati. Telah kutuntaskan dendamku. Aku merasa nafasku begitu lega, hilang semua sesak dan penat, tak ada lagi luka, tak ada perih, tak ada duka dan sedih. Tak ada apapun selain udara malam yang sejuk...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar