Sabtu, 11 Desember 2010

laut

Tak ada yang mampu menelan luka lebih daripada senja. Saat senja sudah beranjak dari muara, darah menggenang masih tersangkut diantara pasir, bebatuan, haluan kapal dan cangkang kerang. Sebuah lagu mengalun dari ruangruang benderang dibalik jendela. Pilu meratapi tubuhtubuh tak utuh; terseret arus ketengah samudra.
Mimpi pecah dalam riak perak, menenggak tiap jarak, bisu, dan waktu. Seakan ada yang singgah, terlalu rindu, tak sempat menuliskan jejak gelombang pada pantai.
Begitukah takdir buih, dihela tinggi, menari dipuncak ombak, hempas diruncing karang, bilakah sampai pada gerbang istana pasir, yang tak terhitung telah berapa kali kubangun di jantungmu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar