Pada suatu petang, seorang lelaki memisahkan aku dari rumpun dimana aku lahir dan tumbuh, ditepi sebuah sungai. Lelaki itu menajamkan sepi dengan gesekan angin pada daundaunku. Dengan tekun menyayat dan membuat lubanglubang berjarak teratur pada tubuhku, terasa perih dan ngilu. Namun tibatiba dengan bibirnya, lembut dia menyentuhku, meniupkan udara dingin ke rongga dadaku. Liurnya sungguh hangat dan manis. Lalu tibatiba aku bernyanyi, nyaring dan merdu nadanadaku mengoyak sunyi. Seperti bersayap, laguku terbang menyeberang sungai, mendaki gunung, menerobos semak dan hutan, menuruni lembah, menari bersama angin dan ilalang dipadang.
Lelaki itu tak berhenti meniup. Jemarinya menari lincah berloncatan pada lubanglubang ditubuhku. Nadanada kian berwarna. Serupa kembang api, mekar memecah gelap langit malam. Lelaki itu tak berhenti meniup, laguku membubung tinggi, menyentuh daundaun bambu muda yang dulu lahir dan melekat pada tubuhku sebelum tumbuh meninggi dipisahkan waktu. Kini bisa kusentuh harum pucukpusuk daun pinus yang dulu gemar mengejekku, yang sekarang cemburu karena bintangbintang berkedip untukku. Bulan merunduk terharu. Lelaki itu tak berhenti meniup, angin memeluk jiwaku, mesra menggandengku ke jendela sebuah istana.
Seorang raja muda tampan mendengar merdu laguku, sepertinya jatuh hati, dilemparnya sebuah kecupan untukku diudara.
“Masuklah ke istana, marilah kita berdansa”, sang raja berkata. Angin mendorongku melewati ambang jendela, sang raja menangkap aku dengan lengannya. Sebuah lagu lain terdengar mengalun merdu mengiringi gerak tubuhku dalam pelukan sang raja, berputarputar dibawah sinar lampu kristal megah, gemulai udara penuh harum cendana dan aroma anggur.
Nun jauh disana; lelaki itu tak berhenti meniup, sekuat daya dihembuskannya nafas dan nadanada dalam tubuhku, seakan mengerti bahwa aku tak ingin semua berakhir. Lelaki itu terus meniup, hingga habis tenaga dan udara pada paruparunya. Hening datang tibatiba, menarikku sangat kuat, sayapsayapku seperti menyusut, semua secepat kilat, kembali melintasi semua yang tadi kulewati, sejenak saja aku telah kembali ketubuhku; di tangan lelaki yang terbaring kelelahan ditepi sungai. Aku rebah di dada lelaki itu, kudengar desah pendek nafasnya, lemah detak jantungnya. Kunangkunang memandangku dengan cahayanya. Kudengar daundaun bambu berbisik,”sungguh beruntung dia telah memilihmu, telah dicurahkannya seluruh nafas dan jiwanya untuk membuatmu mengerti apa artinya dicintai…”
Tibatiba aku merasa hampa dan takut kehilangan. Kupandangi wajah lelaki itu, penuh sayang dan sesal. Lelaki itu terlihat tenang dan bahagia dalam tidur lelapnya.
Andai aku bisa meniupkan sendiri nadanada dalam tubuhku, betapa ingin kunyanyikan sebuah lagu paling merdu untuk lelaki yang didadanya kini aku rebah; aman dan hangat dalam erat genggam tangannya..
Aku berjanji pada diriku sendiri takkan pernah mau terbang jauh lagi, biarlah aku akan bernyanyi dan menarikan lagulaguku hanya disini, sedekat mungkin dengan lelaki yang membentukku dan membuat lubanglubang pada tubuhku, menjadikanku bahagia dan berarti, pun tak berhenti meniupkan udara dengan nafasnya sendiri; demi aku mampu bernyanyi merdu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar