Dingin merampas murung dileherleher bersandar kerdus, mengambil gigil dari gubukgubuk kolong jembatan, masih pula mencuri mimpimimpi buruk para pemabuk. Tak puas dingin mengambil semua lara untuk dikirim ke sebuah dapur diatas awan.
Seorang perempuan jompo bertongkat menunggu disana dengan tungku menyala. Rebus semua murung dan lara dalam panci besar, bersama doadoa tanpa alamat, sajaksajak tak bertuan, airmata para pendosa, bercampur tumpahan marah dan ingkar, merica dan garam, juga daun salam dari kepala seorang kaisar. Terlalu liat dan padat kuah itu, hingga dua belas dayung jadikan pengaduk. Perempuan perempuan khusyuk yang tekun berzikir diundang membantu, memegang kedua belas dayung, gerakkan berputar serupa orbit bulan.
Tak lama, bubur harum mendidih bersamaan saat kicau pertama burungburung murai bersarang dirahim ibu. Harum aroma hidangan penuhi udara, meluapkan selera makan para gelandangan ditikung jalan, juga penghadang maut yang mulai mengantuk di pospos perlintasan kereta. Semua harus antre, berbaris demi sesuap lezat hangat kejujuran.
Suara tangis terdengar tibatiba, entah siapa pemilik isak demikian pilu. Titik airmata berjatuhan menimpa pagar rumah, kerikil, kisikisi jendala, dan rumahrumah lebah ditaman bunga.
“Ini bukan hujan, nak, ini embun,” kisah induk rusa pada anaknya. Anak rusa riang menjilati tiap butir air tersangkut dipucuk rumput dan kelopakkelopak bunga kecubung.
Matahari menggeliat, terjaga seketika oleh riuhnya kepak sayap capung menadah embun, mereka menjalankan amanat naga terbang, leluhurnya, agar selalu setia memungut tetes airmata keramat untuk disulam jadi sayap anakanak mereka.
Geram matahari kejutkan langit, takut rahasianya dipahami lantas direbut paksa penguasa jurang dan palung bumi, langit membentang tirai kabut, turunkan layar fajar. Seisi kota seketika berhambur ke tengah jalan saat ada sedakan kuat dari jantung bumi. Seorang kakek di apartemen bersendawa keras sehabis melahap semangkuk sereal gandum. Pagi ini tak akan ada lagi pemulung, pedagang asongan, penipu, pencuri, pun pembunuh dan pemabuk berwajah murung. Tak ada lagi lara dipundak renta para manula. Semua telah terhibur, dihibur nyala mata dan senyum manja perempuan penghibur yang tak pernah bisa tidur… .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar