Malam tersesat lagi didadaku. Kaki gontai melangkahi jejak catatan sepanjang jalan kota. Jam tiga pagi; mulai gelisah meramu gema pujian didinding surau. Sangat jauh ganggang buntu menyeret hasratku. Di sebuah sudut taman kutemukan angka dan abjad tercecer dimasa lalu telah tumbuh tunas menerobos tanah. Kudengar, ceritacerita berbuah, riang angin merayakan daundaun kering, alunan nada subuh mengusap mata. Khusyuk meraut mimpi jadi setajam belati, memahat luka dikening bulan, membaca isyarat rasi bintang, pertanda musim semi bersinar kembali di wajah bumi.
Sebuah suara dari jauh membacakan dongengdongeng masa lalu. Kisahkisah tentang pencari jalan memohon arah. Aku terus melangkah. Pada sebuah dinding batu bata, rindu menghadang, telanjang, terlukis senyummu dari cahaya lampu. Bayang tubuhmu berseri meninggalkan semua penat pada ladangladang yang berlari mengejar laju kereta. Aku dan malam menanti kau kembali di stasiun kota kelahiran; memeluk mesra kesepian tanpa penyesalan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar