Hitam pasir menyimpan cerita rahasia, daun kering menghanyutkannya sampai ke laut.
Reranting menjulur menyentuh bayang kabut dimatamu.
Angin membisikkan mimpimimpi terhempas pagi. Mimpimimpi seharum dupa, sekilau permata dari setimbun harta dan sepasang lubang telinga bijaksana; malam selicin lantai rumahmu yang sunyi, meredam segala bunyi dan kata.
Aku mendengarkan diamdiam kisahku yang telah tercuri dengar kunangkunang, entah sejak kapan. Sudah diceritakan pada bulan yang menyimpannya untuk diberikan pada sungai agar tenanglah riaknya, hingga kelelawar dapat mencium mata bulan pada wajah sungai. Aku hanya bisa mendongkol melihat seluruh dunia menikmati kepedihan hati yang bahkan tak disesali jentikjentik nyamuk yang mati sebelum menitis terbang.
Ada labalaba mengiba pada kumbang,”pinjami aku sayap..”
Ular tertawa sinis, “tak guna sayap atau kaki, lihat aku sungguhsungguh, si buntung yang beruntung, tanpa apaapa kuciptakan sebuah dosa paling mesra sepanjang sejarah...”
Dan semua mahluk jadi terdiam, mulai menakar takdir…
Kau tibatiba mendekap mesra dari belakang ,“ular mungkin membodohi perempuan, namun perempuan merayu lelaki untuk mengayunkan kapak pada ular…”
Selalu semua seolah impas dalam senandung tobat, hanya serupa dengung lalat mengitari busuknya bangkai, ahh andai… Andai melambai tertiup angin, membelai kuncup teratai, didalamnya seorang bayi mungil tertidur nyenyak memimpikan kincir angin buatan ayah dan kauskaki rajutan bunda…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar