Waktunya hampir berlalu, matanya nyaris dipeluk senja bersahaja pujaan hatinya, namun masih ada yang menahannya untuk bertahan, sebentar saja. Bunyi serangga malam di musim hujan, bau lembab tanah dikampung halaman. Atau sekilas senyum dalam kenangan manis dijalan berbunga, mungkin ingin dilintasinya kembali untuk terakhir kali
Semua telah berserak jadi lembaran sajaksajak yang dibacakan penyairpenyair disebuah podium terhormat. Sementara dia menghitung detak jantungnya yang terkurung dalam titik penanda detik pada jam didinding putih. Mungkin karena ruang ini begitu bersih, maka dapat ditemukannya semua kunci yang disangkanya sudah raib, takkan pernah kembali. Mungkin ada pencuri mengacakacak kopernya di bandara, mungkin diambil paksa lelaki keji yang ditemuinya disebuah jalan tak dikenal. Dia sempat menangis, tak lama, karena menumpuk bajubaju kotor harus dicuci, juga piringpiring busuk bersusun serupa menara, pertanda sebuah pesta telah berlalu tanpa kehadirannya.
Dia teringat tembangtembang emak pengantar tidurnya. Tidur dimalammalam harum asap obat nyamuk. Kini semua bisa ditemukannya kembali, dekat dan hangat. Jemari keriput membelai alisnya, rengekan bocah yang pernah teramat akrab dibuah dadanya. Inikah karma, atau pahala atas semua kisah yang kini sudah membuat namanya dibingkai jadi puisi ?
Dia masih tak mengerti, ketika matahari menenggelamkan nafasnya dalam sebuah senja paling cantik yang pernah dilihatnya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar