Seandainya ada hujan siang ini, mungkin aku bisa merelakan malam berlalu tanpa sebuah kisah. Aku terlalu kerap bercerita. Memaksa ruang kehilangan kehendak. Berandaiandai tentang badai, datang menyeret ribuan kali ketukan di pintu kamarku. Suarasuara dan wajahwajah hanya sebuah khilaf yang berulang kali meminta maaf. Pada jembatan, pada ruas jalan, pada hujan, pada yang tanpa suara dan tanpa wajah.
Lalu aku melihatmu, dan bertanya apakah sebuah andai cukup meredakan badai. Siang atau malam, suara dan wajah yang sama menjenguk, menunduk, seperti ingin bertemu dengan ruang yang hilang. Menjahit sepatu, menambal baju, merekatkan bukubuku. Mencoba menghapus ingatan tentang bintangbintang jatuh di halaman rumahku. Bintangbintang terluka, tak mampu mengabulkan doadoa, hanya diam menunggu padam.
Hujan mungkin tak mendengar gemuruh suaranya sendiri, yang selalu kucuri diamdiam. Kusembunyikan di lengan, telapak tangan, bahu dan kepalaku, kusimpan dan kujaga sendiri dalam catatan dan ingatan. Untuk kubuka kembali. Kumainkan sendiri, ketika badai mengetuk pintu di sebuah siang yang landai. Siang yang tak suka berandaiandai. Siang yang mengembalikan rinai hujan kepada mata. Jembatan dan ruas jalan basah. Debudebu hanyut, daundaun berseri, hijau sejernih permata*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar