Mulanya sepatusepatu itu saling menyapa. Bertanya tentang kabar dan kekacauan di jalanjalan. Sementara mata tertawan dalam sekotak kaca. Mata berenang gelisah dalam harapan pada bunyibunyi lazim. Mencoba mengingat semua yang mengapung di permukaan air. Daundaun kering, serpih ranting dan telur katak. Sepatusepatu begitu rindu untuk bertemu dengan sebuah kolam jernih, memantulkan bibir gelisah pada siang yang teriknya menunggu di luar pintu.
Berpikir tentang masa lalu yang tertinggal di jalanjalan kumuh, membaca jejak pada sol sepatu. Kolam itu mulai menggenangi mata. telur katak menetas satupersatu, kecebong berenang, mengacak hening yang berdiri bingung, hening yang menghitung harga untuk menebus waktu yang tergadai sepatu. Dan sepatusepatu masih tegar mematung, seakan sebuah dunia memohon buaian.
Sebuah penunjuk waktu memaksa sepasang sepatu melupakan segala, pergi begitu saja dari kolam, mata tibatiba jadi ikanikan lapar. Mulutnya terbuka dan tertutup, melahap katakkatak yang belum pandai melompat. Tas kulit di pundak jadi teringat pada tubuhnya yang sudah jadi mangsa tanah. Sepatusepatu memang dungu, cuma tahu saling menyapa siapa saja, tak peduli katak, ikan atau ular. Dan mata itu sungguhsungguh sudah jadi ikan, piranha tua yang mulutnya berbusa, ada bercak darah di sana. Kaca itu pecah berkeping, sebuah peluru telah terbang kencang, menang, mengalahkan ketabahan sepatusepatu.
Mungkin ada sejuta mimpi tumbang di terik siang itu, sepatusepatu memeluk kakikaki asing, kehilangan jejak mata*
Berpikir tentang masa lalu yang tertinggal di jalanjalan kumuh, membaca jejak pada sol sepatu. Kolam itu mulai menggenangi mata. telur katak menetas satupersatu, kecebong berenang, mengacak hening yang berdiri bingung, hening yang menghitung harga untuk menebus waktu yang tergadai sepatu. Dan sepatusepatu masih tegar mematung, seakan sebuah dunia memohon buaian.
Sebuah penunjuk waktu memaksa sepasang sepatu melupakan segala, pergi begitu saja dari kolam, mata tibatiba jadi ikanikan lapar. Mulutnya terbuka dan tertutup, melahap katakkatak yang belum pandai melompat. Tas kulit di pundak jadi teringat pada tubuhnya yang sudah jadi mangsa tanah. Sepatusepatu memang dungu, cuma tahu saling menyapa siapa saja, tak peduli katak, ikan atau ular. Dan mata itu sungguhsungguh sudah jadi ikan, piranha tua yang mulutnya berbusa, ada bercak darah di sana. Kaca itu pecah berkeping, sebuah peluru telah terbang kencang, menang, mengalahkan ketabahan sepatusepatu.
Mungkin ada sejuta mimpi tumbang di terik siang itu, sepatusepatu memeluk kakikaki asing, kehilangan jejak mata*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar