Dulu, aku adalah sesosok cahaya yang bebas beterbangan, mengunjungi tempattempat indah, di seluruh semesta. Suatu ketika aku tiba disebuah tempat bernama bumi. Sangat elok segala yang ada pada bumi ini, hingga aku jatuh hati. Kusampaikan pesan dan pujian, penuh kagum dan sayang kepada bumi. Tak pernah lelah aku berusaha agar bumi memandang padaku, hanya padaku saja.
Berbagai cara kucoba, menyalakan bulan, mengedipkan bintangbintang, mengguncang dataran dan lautan di muka bumi, menyelubungi bumi dengan kelabu jubahku, menyulut guruh dan kilat sebagai kejutan, menghadiahi bumi dengan badai; semua kulakukan hanya demi sebuah harapan. Bumi memandangku, hanya memandangku saja.
Tapi sepertinya bumi tak punya hati, hanya selalu menjadi padang bisu, menyediakan ruang bagi siapa saja, tak memilih, siapapun boleh tumbuh di situ. Semua yang berakar, tak jadi soal kokoh, rapuh, tunggang, serabut, tak pernah menghitung keping biji, dua atau atau satu; semua yang jatuh, silahkan masuk, silahkan belajar atau bermain, silahkan diam atau bersuara, silahkan mengambil segala yang ada. Bumi tak bertelinga, siasia kata terima kasih dan bisikan mesra yang ku ucapkan setiap saat.
Tapi aku keras hati, kupatahkan sebatang dahan yang ditumbuhkan bumi, kugoreskan di dada bumi yang sok tak peduli. Kubuat sebidang tanah kacau balau penghuninya. Kucabut segenggam rumput sampai mati. Kububarkan barisan semut, semua berhamburan, tunggang langgang, saling menabrak dan menginjak hingga terluka. Bumi masih diam saja.
Lalu pergilah aku ke hadapan sebatang lembut sungai yang mengalir dari mataair bumi. Kulontarkan batu yang sekeras hatiku pada wajah bening sungai. Sebuah gelombang mengalun, saat batuku menyentuh jernih airmata bumi, bergerak pelan, tenggelam. Kutunggu jawaban bumi. Tak terlalu lama, aku sudah gelisah. Bumi masih diam saja.
Aku jadi putus asa, sungguhkah bumi tak peduli, tak butuh kata sayang atau ucapan terima kasih ?
Kulanjutkan perjalananku menjelajahi bumi. Suatu hari, kutemui sekelompok manusia sedang bertanam, menusukkan bibit padi berkalikali ke tubuh bumi. Aku menatap sinis dan berkata pada mereka,"Jangan kauharap bumi akan peduli."
Wajahwajah legam manusia itu berkilau oleh keringat, matanya bercahaya, mereka bertelinga dan bersuara menjawabku,"Tinggalah semusim saja, tunggulah di sini. Bumi selalu menjawab kami."
Aku tak percaya pada manusia, meraka tak tahu apaapa, tak bisa menyalakan bulan atau mengedipkan bintangbintang, tak mampu mengguncang daratan dan lautan, apalagi mendatangkan guruh dan badai. Manusia hanyalah mahluk menyedihkan, tak bercahaya, pun tak bisa terbang. Aku malas mendengar suarasuara riuh mereka yang tak merdu, aku bergegas melangkah pergi meninggalkan manusia yang di mataku adalah siasia.
Namun, sepanjang jalan tak henti aku bertanyatanya, benarkah bumi akan menjawab mereka. Tak bisa kutahan hasratku untuk kembali, betapa ingin kutahu bahwa bumi sungguh peduli. Bahwa bumi akan memberikan jawabandalam semusim setelah mereka menusuknusuk dada bumi dengan bibit padi. Belum genap semusim tak tertahan lagi, aku kembali.
Bumi masih diam, hanya saja bibitbibit mungil yang di tanam manusia telah tumbuh jadi batangbatang yang pintar menari, cantik dan lentur geraknya kusentuh. Seorang manusia sedang sibuk mencabut rumput liar yang tumbuh di antara batang padi. Aku berbisikpadanya,"Apa bumi sudah menjawab? Apa katanya?"
Manusia itu menengadah, mengusap peluh yang menitik deras dikeningnya. "Tidakkah kau dengar suara daundaun dan batang padi. Di sana bumi menitipkan nadanada merdu untuk menjawab setiap tetes peluhku yang baru saja berjatuhan menyentuh tanah."
Tak sedikitpun aku puas pada jawaban manusia itu,"Ahh, kau berlebihan dan mengada-ada. Itu bukan jawaban bumi, itu hanya bunyi daun dan batang yang tersentuh jubahku. Kenapa tak mau kau akui saja bahwa bumi sesungguhnya sangat angkuh dan tak akan pernah peduli."
Manusia itu menggelengkan kepalanya, kelihatan habis akal dan pasrah,"Aku tak tahu mesti berkata apa, mungkin kau benar. Aku sungguh tak paham. Yang kutahu adalah, bumi selalu baik hati, menumbuhkan bibitbibit yang kutanam, setelah semusim bumi juga akan memberikan buahbuah dari semua yang kutanam. Aku tak tahu apakah itu jawaban bumi atau bukan, tapi begitulah adanya sedari dulu. Ibu dan ayahku mengajariku besujud hingga kepalaku menyentuh bumi, untuk menyampaikan terima kasih."
Tibatiba aku menjadi sangat gusar mendengar suara pasrahmanusia, alangkah bodohnya manusia. Dengan amarah yang gemuruh di angkasa kulontarkan kalimatkalimat kutukan bersama gelegar halilintar yang kulecutkan tepat mengarah ke dada manusia,"Kalau memang kau benar adanya, biarlah aku jadi mahluk paling hina,tanpa kaki, tanpa tangan, tak bisa terbang, kehilangan cahaya. Lidahku boleh terbelah. Dan segenap bangsamu akan membenciku, mengejar dan menganiaya tubuhku yang melata. Aku bersumpah akan selalu berjalan sambil mendekap setiap jengkal tanah eraterat dengan dadaku, memeluk semua dahan dan ranting sekuat tubuhku. Agar kautahu, bahwa bumi sungguhsungguh tak peduli."
Segera kilat membakar tubuh manusia, terkapar di tanah manusia itu tak bernyawa. Di sisiku yang juga tersengat oleh api yang kusulut sendiri. Kurasakan dadaku hangat menyentuh tanah. Kudengar bumi berkata dengan sebuah getar yang menyentak jantungku,"Agar kematian seorang manusia tak bersalah ini tak siasia dan jadi berkah, maka sekarang kujawab semua hasratmu. Kini kau bisa selalu mendekapku, erat di dadamu. Seperti yang sangat kauinginkan dulu. Kau akan mengerti, aku selalu peduli, akan kujaga dan kulindungi kau, beserta segenap telur dan anakanakmu. Dan saat manusia mengejarmu, berniat menganiayamu karena dendam, kau akan teringat bahwa aku telah menjadikan kematian seorang manusia tak siasia, kebodohannya menjadi jalan pengertian. Akan kautemukan padaku, loronglorong aman untuk sembunyi dari amarah. Aku bumi, telah jadi rumahmu kini. Kau akan tahu, betapa aku menyayangimu seperti dulu, walau kau kini mahluk hina dan melata, walau kini kau tak punya kaki, tak punya tangan, dan tak bisa terbang. Walau lidahmu bercabang, dan kau bukan lagi sesosok cahaya. Aku bumi, akan selalu menyayangimu."
Sejak saat itu segalanya berubah, aku jadi sangat berbeda dengan diriku yang dulu sesosok cahaya.
Betapa ingin kuceritakan semua kisahku pada seorang manusia,andai kutemukan satu orang saja yang tak ketakutan atau marah, saat berjumpa denganku. Tapi mereka; manusia itu, masih saja sebodoh dulu, berteriak dan berlari ketakutan saat melihatku, sebagian mengejar dan berniat menyiksaku sampai mati. Maka aku terpaksa menghindari mereka, atau melumpuhkan mereka dengan menyemburkan cairan beracun dari taringku, demi hidupku sendiri. Hidupku yang kini sangat indah dan berharga.
Ya, hidupku sangat indah dan berharga, tak pernah berhenti aku berterima kasih pada bumi atau siapapun yang kebetulan mendengar dan mengerti getar ekor dan desis lidahku. Aku bahagia dan berumur panjang. Waktu yang senang mendengar ucapan terima kasihku, juga menjawabku dengan berbaik hati padaku: membuatku selalu muda dan cantik dengan mengganti kulitku saat mulai kusam dan rapuh.
Sungguh, aku merasa sempurna, tanpa kaki, tanpa tangan, dan tak bisa terbang. Aku bahkan lebih bahagia kini, ketika bukan lagi sesosok cahaya. Aku bahagia ketika bulan bersinar dan bintangbintang berkedip untukku, meski aku tak tahu siapa yang menyalakan bulan dan mengedipkan bintang nun jauh di angkasa sana. Aku bahagia telah mengutuk diriku sendiri, jadi hina dan melata. Dengan begitu, bisa selalu kurasa detak jantung bumi di dadaku sendiri, akhirnya aku mengerti: bumi selalu peduli, selalu menyayangi dan menjawab semua, tak pernah memilih dan menolak, semua boleh mengambil segala yang ada*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar