Saat aku mencoba menyusun kembali patahanpatahan doa, katakata menjadi sangat marah. Dengan kepalan tangannya sendiri dipecahkannya tabung penanda waktu yang menindih kertaskertasku. Tanganmu terluka, meneteskan jejak merah. Dan aku jadi kehilangan nyali, tak lagi ingin mengerti. Tak lagi ingin mengenalmu lebih karib daripada namanama di halaman surat kabar. Aku pasti sudah mencoba sembunyi darimu, jika saja kau tak akan pernah menemukanku mencarimu kembali : Kau selalu bisa membuatku bertanya dan meragukan diriku sendiri*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar