by Dian Aza on Monday, April 4, 2011 at 7:35pm
Perempuan itu menatapku dengan mata penuh tanya, apakah aku gila. Aku balas menatapnya, menumpahkan seluruh sampah ke dalam matanya. Perempuan itu segera tertawa, memesan sepiring gadogado dengan banyak kuah. Sekalipun otak sudah lupa rasa, perut masih jelas mengingat lapar. Perempuan itu senang, duduk di kursiku, melonjorkan kaki, menikmati seisi kebun dari dataran tinggi dalam genangan kuah kacang, enak, enak. Perempuan itu tertawa, membuatku mengingat sebuah kebakaran melahap tidur siang. Aku mencatatnya serupa hutang ladang pada mata bajak, kakikaki kerbau dan burung bangau. Perempuan itu menyembunyikan harta karun yang telah dirampas kertaskertas pengecut, sehabis merampok kertaskertas meringkuk dalam mesin hitung, menanti sentuhan tangantangan halus. Alarm tibatiba berdering nyaring, seperti suara sutradra yang marah, ulang, ulang, kenapa kaulupakan dialogmu. Aku mundur sambil membantah, belum saatnya bertanya, perempuan itu sedang makan, merayakan kemenangan perut dari segenap rasa takut di asam mulutnya. Otak boleh ke laut atau tambak udang, berenangrenang sampai suara sutradara marah kembali berteriak, cut, cut!
Aku dan perempuan itu tertawa bersama dalam sebuah adegan yang salah*
Aku dan perempuan itu tertawa bersama dalam sebuah adegan yang salah*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar