by Dian Aza on Tuesday, April 19, 2011 at 12:25am
Kau yang di sana, di mana saja, kapan saja, tak perlu purapura memahami jalanjalan yang tak pernah kautempuh, kursikursi yang tak pernah kaududuki, loronglororng yang tak pernah kaususuri.
Kepedulian cuma jadi candu, paling pahit, penuh ragu mengoyak sedikit demi sedikit lidahku. Kau macam pencuri. Aku seekor sapi, kau sayat lidahku, tajam, kian dalam, agar tak bisa melenguh memanggil tuanku ketika kauseret aku keluar dari kandang. Kau arahkan tali kekangku ke lambahlembah penuh tumbuhan berduri.
Setiap dahaga menelan darah, mengunyah luka, hingga tuntas perjalanan di rumah jagal. Esok pagi mulai bermimpi lagi*
Kepedulian cuma jadi candu, paling pahit, penuh ragu mengoyak sedikit demi sedikit lidahku. Kau macam pencuri. Aku seekor sapi, kau sayat lidahku, tajam, kian dalam, agar tak bisa melenguh memanggil tuanku ketika kauseret aku keluar dari kandang. Kau arahkan tali kekangku ke lambahlembah penuh tumbuhan berduri.
Setiap dahaga menelan darah, mengunyah luka, hingga tuntas perjalanan di rumah jagal. Esok pagi mulai bermimpi lagi*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar