by Dian Aza on Wednesday, April 20, 2011 at 5:19pm
Lagilagi orangorang besar dan pintar itu berbohong. Aku tak percaya buah simalakama itu sungguh ada untukku.
Kau memang sering bercanda kelewatan, tapi kau pasti tak sampai hati memaksa siapapun memilih satu, di antara dua orang yang pada mereka kaubuat aku sangat sayang, emak dan abah. Apalagi aku masih kecil dan bodoh, mana bisa memilih kemudian tidak menangis ketika pilihanku salah, pasti salah, karena aku masih kecil dan bodoh.
Tak mengapa, buat apa jadi besar kalau cuma untuk pintar mengada-ada. Apa gunanya memilih yang benar kalau harus ada yang hilang. Tapi kenapa kau menumbuhkan yang kecil dan bodoh hingga besar dan pintar hanya untuk mengetahui bahwa ada sebutir buah yang menyusahkan. Mungkin kau ingin menunjukkan kalau sudah besar dan pintar itu segalanya menjadi tak benar. Atau mungkin kau ingin kelak aku tak kelayapan sembarangan ketika sudah besar dan pintar, agar jangan sampai berjumpa dengan sebutir buah pembawa bencana. Mungkin begitu ya, biar aku betah dekat emak dan abah selalu, dari kecil sampai besar, saat bodoh juga pintar, puas dengan buahbuah dari kebun desa, buahbuah tanaman abah yang dipetik emak, pisang, blimbing, mangga, jambu, kedondong, srikaya, masih banyak pula yang enak dimakan, sehat, tanpa syarat*
Kau memang sering bercanda kelewatan, tapi kau pasti tak sampai hati memaksa siapapun memilih satu, di antara dua orang yang pada mereka kaubuat aku sangat sayang, emak dan abah. Apalagi aku masih kecil dan bodoh, mana bisa memilih kemudian tidak menangis ketika pilihanku salah, pasti salah, karena aku masih kecil dan bodoh.
Tak mengapa, buat apa jadi besar kalau cuma untuk pintar mengada-ada. Apa gunanya memilih yang benar kalau harus ada yang hilang. Tapi kenapa kau menumbuhkan yang kecil dan bodoh hingga besar dan pintar hanya untuk mengetahui bahwa ada sebutir buah yang menyusahkan. Mungkin kau ingin menunjukkan kalau sudah besar dan pintar itu segalanya menjadi tak benar. Atau mungkin kau ingin kelak aku tak kelayapan sembarangan ketika sudah besar dan pintar, agar jangan sampai berjumpa dengan sebutir buah pembawa bencana. Mungkin begitu ya, biar aku betah dekat emak dan abah selalu, dari kecil sampai besar, saat bodoh juga pintar, puas dengan buahbuah dari kebun desa, buahbuah tanaman abah yang dipetik emak, pisang, blimbing, mangga, jambu, kedondong, srikaya, masih banyak pula yang enak dimakan, sehat, tanpa syarat*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar