Selasa, 28 Juni 2011

segumpal kabut dalam sumur

by Dian Aza on Sunday, April 24, 2011 at 3:34pm
Kunanti dini hari, waktunya menjadi segumpal kabut. Bukan sembarang kabut, satusatunya kabut yang nekad terjun ke dalam sumur. Kabut biasanya mengapung, melayang di permukaan tanah, jangankan lubang, jalananpun tak tersentuh. Aku mau jadi segumpal kabut terjun ke dalam sumur, menyapa seekor ikan besar yang tinggal di sana, satusatunya ikan yang selamat meski bermata sebelah.

Tentang kabut, bukankah sangat bagus. Seperti mahluk halus, lembut, kabut berjenis kelamin perempuan, tubuhnya meliuk indah, diselubungi sehelai benda ringan, tembus pandang, terasa sungguh sejuk jika disentuh, bukan pula kesejukan biasa, sejuk yang menciptakan dahaga. Kabut mirip hantu, wujud kegemaran tuhan. Hantu, kalau terdengar jadi hujatan boleh diabaikan, cukup saat mengingat tuhan dan hantu samasama tak pernah terlihat.

Kalau ada hantu yang bisa dilihat pastilah hanya rekayasa, atau paling jauh hantu kelas rendah, amatir, belum mahir menghilang setiap saat. Kalau dibilang hantu penasaran malah lebih tidak profesional. Cuma anakanak yang sering penasaran tentang banyak hal, hantu bisa kehilangan wibawa kalau ketahuan penasaran. Aku tak berminat menjadi hantu, betapapun bagusnya akan siasia jika tak bisa dipandang mata. Kabut bukan hantu, mirip hantu dalam bayangan atau gambar, tapi kabut adalah kabut. Kabut lebih elok dan anggun, tak ragu menampakkan wujud, melayanglayang di udara waktu dini hari, tak menyentuh tanah.

Segumpal kabut berpikir, dunia ini seluas apa, dini hari terlalu sekejap, aku harus segera mencairkan diri, hinggap di atas semua yang tengadah. Tak lama pula, aku harus menghilangkan diri, aku tak ingin menghilang seperti hantu, walaupun hantu wujud kegemaran tuhan, kabut bukan hantu, cuma sedikit mirip digambarkan oleh manusiamanusia sok tahu.

Dari atas, air sumur nampak hitam berkilatkilat, sedalam mata manusia bijak. Ketika ekor dan sirip ikan besar bermata sebelah berkecipak terdengar suara megah terpantul pada dinding sumur, seakan seribu batu bata di sana berteriak serempak, ingin lepas dari himpitan semen dan sesamanya, terpisah, bebas, sendiri, satusatu menjatuhkan diri ke dalam air hitam berkilat, membenamkan diri ke dalam sesuatu yang tak tahu atau tak hendak bicara tentang kedalamannya sendiri, betapa menarik.

Pilihan yang menyenangkan untuk terjun ke dalam sesuatu yang hitam berkilat, yang tak terduga seberapa dalam, tak tertebak pekatnya, tak terkira tekanan dan suhu udaranya. Sayang sekali segumpal kabut mungkin akan kecewa kemudian, ternyata tubuhnya terlalu ringan untuk bisa tenggelam. Seperti di atas tanah, segumpal kabut hanya bisa mengapung dan melayanglayang di permukaan hitam berkilat. Batu bata di seluruh dinding sumur mungkin akan mengejeknya, atau sekedar tertawa geli melihat segumpal kabut kecewa garagara tak bisa menyelami sumur, tak bisa menyapa dan bermain dengan ikan besar bermata sebelah.

Setiap hari waktu berjalan dengan cara sama. Matahari akan tiba tepat di puncak siang, sumur tak akan selamanya luput dari sorot mata cahaya, hitam berkilat jadi bening tembus pandang. Kabut tetaplah kabut, menemui akhir di ujung terang, mecairkan diri, menghilang seperti hantu.

Malangnya segumpal kabut mungkin tak tahu dia mencair dan melarut pada air sumur yang kini terangbenderang. Bahkan segumpal kabut telah menempel pada sirip dan sekujur tubuh ikan besar bermata sebelah menari bersama seirama kecipak air, segumpal kabut sama sekali tak sadar telah hilang menjadi sumur. Hantuhantu mungkin memandang dari tempat yang tak kelihatan sambil menganggukkan kepala kepada tuhan. Tuhan mungkin tertawa tanpa suara, bahagia tanpa alasan melihat segumpal kabut terjun ke dalam sumur. Mungkin selalu punya cara untuk menjadi tak siasia. Ikan besar bermata sebelah berenang dengan riang gembira*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar