by Dian Aza on Monday, April 18, 2011 at 11:29pm
Dalam stoples kaca asam asetat memuaskan hasratnya. Memenuhi setiap jengkal mentimun, bawang merah, dan cabai dengan gairah maut paling pekat. Aku tercabik memandang kau mengunyah tanpa melontarkan tanya siapa melumat apa, potongan tanaman atau genangan cuka. Pedas dan asam mengusir jengah. Geraham tanpa ragu mengaburkan liat hasrat dalam sesuap nasi beruap, lambatlambat larut dalam liur, mengendap dalam lambung. Pedas, hangat, manis. Mengikat sinis.
Segala yang kupikirkan mendadak tak penting, berenang di antara bongkahan tanaman dalam stoples. Mengabadikan kematian dengan riang, hilang bimbang, tanpa pertimbangan, tak hendak bertanya. Demi rasa renyah di tiap gigitanmu, tak akan pernah kugugat rasa setajam apa*
Segala yang kupikirkan mendadak tak penting, berenang di antara bongkahan tanaman dalam stoples. Mengabadikan kematian dengan riang, hilang bimbang, tanpa pertimbangan, tak hendak bertanya. Demi rasa renyah di tiap gigitanmu, tak akan pernah kugugat rasa setajam apa*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar