Selasa, 28 Juni 2011

tarian debu

by Dian Aza on Friday, April 22, 2011 at 11:48pm
Debudebu menari lembut dipeluk angin. Aku bukan patung pualam, tegak tak bercacat di halaman balai kota. Tangantanganku selalu rindu mengetuk jendelamu, menanyakan apakah tuan dan nyonya baikbaik saja, sudah memeluk tuan kecil dan nona manis yang baru menangis. Debudebu gemar menyusup ke dalam mata jernih, menghapus dahaga dari jejak air mata sehabis satu dongeng pengantar tidur selesai dibaca. Mata jernih memilih mencintai dekapan angin, meninggalkan ruang sejuk tanpa gerak. Dengung penyaring udara menyamarkan kidung malam, kidung megah yang dikirim dari lembahlembah bersungai bening, bersama kicau burung hitam, denting gelas dan seruanseruan ragu dari pesan kecil yang berserakan dalam tas kerja.

Kita sedang terlena, bisik sebutir debu yang baru menusuk mataku. Terlalu dalam menusuk, memutus sebagian penglihatan para pengkhianat di medan perang. Kubuat sampan kertas, dilipat dari selembar catatan harian, berkalikali meronta, sangat berhasrat mengejar namanama pudar, kerap kucoretkan pada dinding kamar dan meja. Debudebu memahami kerinduan. Untuk mendengarmu memasuki ruang, bukan dari pintu, meletakkan wangi malam di rambutku, kemudian sekali lagi membacakan dongeng permadani terbang.

Kelelahan menari, aku segera tidur dan bermimpi melukis sampan kayu, kau dan aku mendayung di telaga yang baru tercipta dari serentetan letusan besar. Meruntuhkan temboktembok kota, dari puingnya tumbuh sulursulur berdaun ranum, kelak akan berbuah debudebu yang baru, debudebu yang lebih lentik menari, lenganlengannya lebih pualam dari semua patung yang tegak tak bercacat, jarijarinya lebih tajam menusuk mata*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar